Showing posts with label #Analisa. Show all posts
Showing posts with label #Analisa. Show all posts

Monday, September 1, 2014

Pasca Kemenangan 3-1 Milan Atas Lazio

AC Milan memulai Serie A dengan menjanjikan. Menjamu Lazio di San Siro, Milan berhasil membungkam sang tamu dengan skor 3-1. Gol Keisuke Honda, Sulley Muntari, dan Jeremy Menez, hanya mampu diperkecil oleh gol bunuh diri Alex. Lazio sejatinya mampu mengimbangi permainan cepat Milan. Berkali-kali peluang demi peluang berhasil didapatkan. Namun skuat asuhan Stefano Pioli ini tak mampu menandingi serangan cepat yang diperagakan pemain Milan dengan menyisir sisi sayap.
Pada laga ini, Milan tak bisa menurunkan beberapa pemainnya. Philipe Mexes dan Mattia De Sciglio harus absen lantaran akumulasi kartu. Riccardo Montolivo masih belum sembuh dari cedera panjangnya. Sementara pemain anyar yang dipinjam dari Chelsea, Fernando Torres, belum bisa diturunkan karena baru tiba di Milan kemarin (31/08).
Milan menggunakan formasi andalannya 4-3-3, formasi yang memang menjadi andalan sang allenatore, Filippo Inzaghi. Kali ini Inzaghi coba bereksperimen dengan memasang Jeremy Menez menjadi penyerang tengah untuk melengkapi barisan penyerangan yang ditandemkan dengan Stephan El Sharaawy dan Honda.
Starting XI AC Milan v Lazio (31-08-2014)
Sementara di kubu Lazio, Biancoleste harus berlaga tanpa lima pemain andalannya. Federico Marchetti, Abdoulay Konko, Onazi, dan Gonzalez harus menepi karena cedera. Sedangkan Peireinha tak bisa diturunkan karena akumulasi kartu. Namun meskipun begitu, Lazio masih memiliki para pemain cadangan yang kualitasnya tak jauh berbeda dengan para pemain yang absen di atas. Formasi 4-3-3 pun coba dimaksimalkan dengan menurunkan beberapa pemain anyar seperti Stevan De Vrij,Dusan Basta, Marco Parolo, dan Seydou Keita.

Keberhasilan Serangan Balik
Bermain di kandang lawan tak membuat Lazio memainkan skema bertahan. Justru sebaliknya, Lazio bermain terbuka. Parolo dan Lucas Biglia menjadi instrumen di lini tengah Lazio. Akurasi umpan keduanya mencapai 90%, di mana Parolo mencatatkan empat key passes. Dari keduanya pula Lazio berkali-kali mampu merepotkan pertahanan Milan dengan mengalirkan bola pada Candreva dan Lulic yang memang menjadi tumpuan.
Kombinasi Umpan Parolo Dan Biglia
Dengan skema permain Lazio yang seperti itu, Milan dibuat lebih banyak bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Namun Milan memiliki El Sharaawy dan Honda yang mengisi pos penyerang sayap. Kecepatannya sangat diandalkan ketika melakukan serangan balik. Gol Honda pun tercipta melalui skema serangan balik cepat yang digagas El Sharaawy.
El Sharaawy yang menerima bola di sisi kiri membawa bola sendirian melewati dua orang pemain sebelum mengirim umpan daerah pada Honda yang berada di kotak penalti. Tak terkawal, Honda pun bisa mengecoh kiper Lazio, Berisha pada menit ke-7.
Serangan seperti ini ternyata lebih ampuh ketimbang serangan Milan yang dibangun perlahan-lahan ketika menguasai bola. Lini tengah Lazio yang dihuni Parolo, Biglia dan Lulic beberapa kali mampu meredam serangan Milan, berbeda dengan serangan balik yang membuat ketiganya kelabakan.

Milan Cenderung Mengalirkan Bola Kesisi Sayapnya
Hal ini terjadi lantaran ketika Milan melakukan serangan balik, fullback Lazio kurang baik dalam melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Basta dan Radu menjadi pihak paling yang bertanggung jawab atas dua gol Milan. Karena kedua gol tersebut berasal dari serangan sisi sayap yang tak mampu diantisipasi oleh dua pemain tersebut.
Radu dan Basta memang dituntut untuk aktif membantu lini penyerangan. Keduanya pun ditugaskan untuk memanjakan Klose dengan umpan silangnya. Tercatat sembilan kali total keduanya mengirimkan umpan silang ke dalam kotak penalti.

Umpan Silang Lazio yang Selalu Berhasil Digagalkan
Serangan Lazio sendiri lebih mengandalkan umpan silang. Hal ini dilakukan lantaran Lazio memiliki Antonio Candreva dan Senad Lulic yang bisa mengobrak-abrik sisi sayap pertahanan Milan. Keduanya ini wajib "menyuapi" Miroslav Klose yang memang handal dalam duel bola-bola atas.
Namun sayangnya serangan ini tak begitu efektif menghadapi Milan. Umpan silang yang dikirimkan ke kotak penalti selalu kandas dihalau oleh duo bek Milan, Alex dan Zapata. Pada babak pertama,dari 10 kali usaha yang dilakukan tak satu pun yang berhasil mengenai sasara.
Meski kemudian tertinggal lebih jauh menyusul gol yang diciptakan Jeremy Menez lewat titik putih, Lazio tetap tak mengubah skema permainannya. Upaya untuk membongkar pertahanan Milan yang dilakukan sang allenatore, Stefano Pioli, adalah dengan mengganti pemain, Djordjevic meggantikan Klose dan Felipe Anderson menggantikan Keita. Pergantian ini cukup berhasil karena gol bunuh diri Alex tercipta bola umpan silang yang diarahkan Djordjevic mengenai bek asal Brasil tersebut untuk meluncur ke gawangnya sendiri.
Setelah gol tersebut Lazio mulai mendominasi pertandingan. Apalagi setelah Inzaghi memasukkan Essien, Armero dan Niang untuk menggantikan Muntari, Honda dan Menez dan mengubah formasi menjadi 4-1-3-2.
Tampaknya alasan Inzaghi mengubah formasinya ini untuk membatasi pergerakan para pemain tengah Lazio yang begitu nyaman menguasai bola di area tengah lapangan setelah masuknya Stefano Mauri. Kapten Lazio yang sebenarnya itu memang memiliki kreativitas dan visi bermain yang cukup mumpuni.
Pablo Armero dipilih Inzaghi untuk menempati gelandang di sisi kiri, padahal biasanya pemain timnas Kolombia ini ditempatkan sebagai fullback atau wingback kiri. Tampaknya kecepatan yang dimilikinya diharapkan bisa berguna saat Milan melakukan serangan balik.
Dengan Milan yang memperkuat lini tengah, Lazio terus menggencarkan serangan lewat sisi sayapnya di mana Lulic dan Candreva secara bergantian bertukar posisi untuk mengecoh penjagaan lawan. Upaya terus menerus membongkar sisi sayap ini akhirnya berhasil pada tambahan waktu babak kedua, ketika Candreva berhasil menerobos ke area kotak penalti dengan kemampuan dribbling-nya. Candreva harus dijatuhkan di area terlarang sehingga Lazio mendapatkan hadiah penalti. Namun sayang, Candreva yang mengeksekusi sendiri penalti tersebut gagal membobol gawang Diego Lopez. Lopez dengan tepat membaca arah bola dan menepis tendangan Candreva. Skor 3-1 pun tetap bertahan hingga wasit meniupkan peluit panjang.

Pertahanan Solid Milan
Lini pertahanan Milan yang digalang Alex pun patut diacungi jempol. Kedisipilinan para pemain bertahannya ini berhasil membuat serangan umpan silang Lazio selalu bisa dipatahkan. Klose dibuat tak berkutik karena kesulitan mendapatkan bola.
Alex yang berpartner bersama Zapata pada posisi bek tengah bermain lugas dan disiplin dalam menjaga area kotak penalti. Keduanya melakukan 25 clearance dan 83% keberhasil tackle. Dan mereka tak sekalipun melakukan pelanggaran sepanjang 90 menit.
Inzaghi dengan baik mampu membaca pola penyerangan Lazio. Awalnya, Milan sempat menggunakan garis pertahanan tinggi. Namun setelah melihat Lazio yang mengusai lapangan tengah, Inzaghi menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih ke dalam menjaga area pertahanan.
Hal ini tentunya sangat tepat dilakukan untuk meminimalisir ruang kosong. Pada garis pertahanan tinggi, jarak antara kiper dan pemain belakang memiliki ruang yang tentunya akan sangat membahayakan jika berhasil ditembus pemain lawan. Apalagi Lazio yang memiliki gelandang yang selalu siap memanfaatkan celah tersebut.
nzaghi tampaknya tak mau mengambil resiko dengan memainkan garis pertahanan tinggi meski pada babak pertama serangan Lazio belum membuahkan hasil. Dengan garis pertahanan yang dimundurkan, celah dan ruang kosong di lini pertahanan berhasil dipersempit karena menumpuknya pemain Milan di area dekat kotak penalti.
Apalagi setelah unggul, Milan jelas perlu mempertahankan skor. Dan Inzaghi dengan kecerdikannya menyadari hal itu. Berkat perubahan skema bertahan ini, skor 3-1 pun berhasil diamankan hingga wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Kesimpulan
Keberhasilan Milan menekuk Lazio di kandangnya ini tak lepas dari kejelian Inzaghi yang memanfaatkan sisi sayap sebagai upaya untuk mencetak gol. Kredit khusus patut diberikan pada El Sharaawy dan Honda yang memainkan perannya dengan baik sebagai penyerang sayap.
Hasil ini tentunya menjadi hasil yang memuaskan bagi allenatore Milan, Inzaghi. Kemenangan ini juga akan memberikan kepercayaan diri pada para pemain dan Milanisti yang mendukungnya setelah mengalami rentetan hasil buruk pada laga pra-musim.
Konsistensi permainan seperti ini perlu ditunjukkan Milan hingga akhir musim. Dan itu memang wajib dilakukan mengingat kandidat tim juara lain akan terbagi konsentrasinya karena harus berlaga di kompetisi Eropa, sedangkan Milan hanya berlaga di kompetisi domestik. Jika Milan mampu melakukannya, tiga poin berikutnya bukan hal yang mustahil untuk diraih.

Tuesday, April 9, 2013

Ulasan Derby Della-Capitale 09-04-2013

Aroma panas selalu tersaji dalam setiap Derby della Capitale. Sebelum laga tadi malam bahkan terjadi kericuhan besar-besaran di luar stadion. Enam orang ditikam dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Panas di luar, panas juga di dalam. Di lapangan tercipta 34 foul, 7 kartu kuning, plus 1 kartu merah.
AS Roma yang menjadi tuan rumah gagal memanfaatkan keuntungan melawan 10 pemain Lazio. Pertandingan pun berakhir dengan skor imbang 1-1. Hasil ini sangat disayangkan karena biasanya kedua tim selalu saling mengalahkan. Terakhir kali kdua tim bermain imbang adalah di musim 2006/2007.
"Sayangnya kita membuang banyak peluang babak pertama. Tapi babak kedua berjalan lebih baik dan yang penting adalah bahwa kita tidak kalah," ucap sang kapten Fransesco Totti seusai pertandingan.
Lazio memang sempat unggul melalui Hernanes di menit 16, namun Totti menyamakan kedudukan di menit 59 melalui titik putih.

Lazio Menyerang dari Sayap
Menghadapi Lazio, tak seperti biasanya pelatih Roma, Aurelio Andreazzoli, tak menggunakan back-three yang kerap jadi andalannya. Jika di 5 laga terakhir ia menggunakan formasi dasar 3-4-2-1, di pertandingan tadi malam ia memakai 4-3-1-2. Konsekuesinya adalah membangkucadangkan Ivan Piris. Pada posisi duet center back, Andreazzoli lebih memilih duet Leandro Castan-Marquinhos ketimbang Burdisso-Marquinhos yang kerap jadi langganan starting eleven.
formasi sepak bola
Starting Line-Up
Dengan pola ini otomatis Torosidis dan Marquinho yang biasa dipasang sebagai wing-back mau tak mau mundur menjadi full-back. Terlihat sekali Roma agak getir menahan laju serangan Lazio yang kerap menyerang dari posisi sayap melalui Candreva dan Lulic.
Absennya Osvaldo terasa betul bagi Roma. Lini depan Il Giallorossi terasa pincang. Dua ujung tombak mereka di depan Totti dan Erik Lamela bukanlah tipikal striker murni. Kedua pemain ini lebih banyak berperan sebagai second striker. Imbasnya, lini depan Roma tampil kurang dominan dan lebih banyak berkutat di tengah sama seperti saat mereka ditaklukan Palermo 2-0 minggu lalu.
Di kubu lawan, menggunakan pola 4-1-4-1 terlihat Lazio ingin menguasai lapangan tengah sembari menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan. Miroslav Klose yang dipasang sejak menit awal, membuahkan hasil yang tak maksimal. Kendati begitu, srategi Vladimir Petkovic yang memasang Klose sejak menit awal berhasil membuat Roma melakukan kesalahan dengan hanya terfokus bertahan di kotak penalti dan melupakan second line.

Kuartet Klose - Lulic - Hernandez - Candreva
Di menit-menit awal, dipasangnya Marquinho sebagai full-back kanan membuat Roma sedikit kelabakan. Sebagai tipikal pemain dengan naluri menyerang, Marquinho selalu gagal menahan laju Antonio Candreva. Sampai menit 20 babak pertama, terlihat dengan jelas, Lazio memanfaatkan kelemahan ini. Candreva begitu dominan di sisi kanan penyerangan. (Lihat grafik di bawah ini: pergerakan Candreva di menit 1-15).
Pergerakan Candreva
Roma sebenarnya bisa mematikan Candreva dengan syarat De Rossi mampu menunaikan tugasnya dalam mengawal Hernanes. Sebab, suplai bola terbanyak yang diterima Candreva berasal dari lini tengah yang ditempati Hernanes. Tercatat, aliran bola kepada Candreva hampir 70% throughpass dari lini tengah. Pergerakan Alvaro Gonzalez yang berada tepat di belakang Candreva berhasil ditahan oleh Marquinho sehingga dia tak bisa leluasa memberi sokongan pada Candreva.
Sampai babak pertama usai, lini serangan Lazio hanya terfokus kepada sayap kiri Roma. Kelemahan Marquinho – Florenzi – De Rossi terus dieksploitasi Candreva – Hernanes – Klose dan Senad Lulic yang bahkan kerap bertukar posisi meninggalkan sayap kiri guna beroperasi di sayap kanan.
Kendati memasang Klose sendirian di depan, dengan cerdik Petkovic lebih banyak mengintruksikan Klose mundur ke luar kotak pinalti. Otomatis serangan sayap Lazio bukanlah diakhiri dengan crossing melainkan lebih banyak berupa tusukan ke dalam yang diakhiri dengan shooting langsung ke gawang. 
Posisi Klose yang sering turun ke luar kotak penalti juga disengaja dalam upaya untuk memaksimalkan peran Candreva atau Lulic yang menusuk ke kotak penalti dari sisi kanan dan kiri. Sedangkan Hernanes stand by di sekitar kotak penalti sembari menunggu bola rebound.
Untuk menciptakan gol, Lazio hanya menyerang melalui flank dan mengeksploitasi kelengahan De Rossi-Bradley yang terlalu mundur ke belakang dan menyisakan ruang tembak yang kosong di depan kotak penalti. Terbukti di babak pertama, Lazio berhasil mencetak 7 attempts yang satu di antaranya berhasil merobek gawang Roma yang dijaga Maarten Stekelenburg. Dan itu dilakukan oleh Hernanes yang sabar menunggu di luar kotak penalti.

Totti Mengambil Peran Lamela 
Kelemahan De Rossi langsung direspon Andreazzoli dengan menarik De Rossi dan memasukkan Mattia Destro di menit 53. Kondisi ini membuat barisan depan Roma kembali lebih hidup. Destro yang merupakan striker murni membuat Totti dan Lamela bisa lebih mundur ke belakang sebagai second striker.
Peran Lamela di laga ini agak kurang maksimal karena dijaga ketat oleh Senad Lulic yang membantu barisan pertahanan. Di laga ini Lamela diplot sebagai pemain bertipikal inverted winger di sayap kanan. Untuk mematikannya, Lulic dengan cerdik terus menjaga ruang di sisi dalam lapangan, mendesak Lamela terus ke pinggir, sehingga kesulitan cutting inside guna memaksimalkan kaki kirinya. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa sepanjang pertandingan, sebagai seorang playmaker, Lamela hanya mampu passing 14 kali, 7 di antaranya gagal.
Pergerakan Lamela
Peran Lamela yang tak efektif
Kendati begitu, Roma berhasil mengeksploitasi kelemahan sayap kiri Lazio yang dikawal Alvaro Gonzalez. Seperti yang sudah diuraikan di bagian sebelumnya, dominasi Candreva di sisi kanan penyerangan tidak diimbangi oleh Gonzalez. Dia terlihat canggung. Kurang agresif dalam menyokong Candreva tapi juga kerap kehilangan posisi saat bertahan.
Seperti diketahui, Gonzalez bukanlah pemain bertipikal full-back. Dulunya pun dia adalah penyerang sayap. Masuknya Dodo amat membantu peranan Totti. Sebelum masuknya Dodo, Il Capitano masih harus ikut berjuang mengamankan sisi kiri Roma yang berkali-kali dieksploitasi Candreva.
Masuknya Dodo membuat Totti bisa lebih fokus mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Lazio yang dijaga Gonzalez. Dari sinilah akhirnya Roma menemukan ketajaman lini serangnya. Data whoscored mencatat hampir 43% serangan Roma berasal dari sisi lapangan yang ditempati oleh Totti.

Pertahanan Lazio Rapi
Aroma panas memang selalu terasa di laga Derby Della Capitale. Dari 5 head-to-head terakhir selalu berujung dengan kartu merah yang keluar dari saku wasit. Dan di laga tadi malam kondisi serupa terjadi. Kartu merah yang diterima center back Lazio, Giuseppe Biava, ternyata tak membuat tensi pertandingan turun.
Keluarnya Biava langsung digantikan oleh Ciani dengan menumbalkan Ledesma. Otomatis Lazio bermain dengan pola 4-4-1 dengan tanpa seorang natural defensive midfielder di lapangan. Kesan yang terlihat adalah Petkovic tidak kehilangan nyali sedikit pun untuk mengendurkan serangannya.
Dan itulah yang terjadi. Kendati harus bermain dengan 10 orang nyaris di sepanjang babak II, Petkovic terus mengintruksikan anak buahnya menyerang. Statistik menunjukkan, pasca keluarnya Biava, Lazio berhasil membuat 5 attemps, masih lebih baik ketimbang Roma yang hanya mampu membuat 4 attemps.

Keberhasilan Lazio menahan Roma adalah mereka tidak terburu-buru melakukan tekanan pada Roma. Pemain Lazio lebih sering membiarkan Roma masuk lebih dulu ke pertahanan, baru kemudian pressing dilakukan. Catatan statistik menunjukkan, hampir 80 persen tackle yang dilakukan pemain Lazop dilakukan di daerah pertahanan mereka sendiri.
Selain itu, barisan pertahanan Lazio juga tampil dengan konsentrasi yang sangat baik. Mereka jarang melakukan kesalahan fatal di daerahnya sendiri. Dari 35 tackle yang dilakukan Lazio, 29 di antaranya adalah bersih.
Faktor lainnya adalah gemilangnya penampilan Federico Marchetti dalam menjaga gawang terutama ketika set-piece yang dilakukan Totti. Lima penyelamatan gemilang berhasil diselamatkan Marchetti di sepanjang babak kedua.

source : sport detik