Showing posts with label #Italia. Show all posts
Showing posts with label #Italia. Show all posts

Thursday, March 10, 2016

Vicenza yang Mencoba Bangkit

vicenza calcio
Alkisah, saat Kekaisaran Romawi mencoba memperluas wilayah kekuasaanya ke seluruh penjuru Italia, mereka cukup kesulitan ketika menghadapi Bangsa Celtic di pesisir utara Italia. Kemudian, mereka bekerja sama dengan etnis Paleo-Veneti untuk mengusir bangsa Celtic dari tanah Italia.
Atas bantuan tersebut, Kekaisaran Romawi memberikan sebuah lahan yang diapit oleh Sungai Adige dan Danau Como. Daerah tersebut masuk ke dalam pemerintahan Kekaisaran Romawi yang diberi nama "Vicentia" atau 'Vicenza" yang berarti "kemenangan". Rakyat Vicenza kemudian mendapatkan kewarganegaraan dari Kekaisaran Romawi.
Perlahan, Vicenza menjadi salah satu jalur penting dalam perdagangan di Italia. Pasalnya, posisi Vicenza berada di tengah-tengah Mediolanum (Milan) dan Tergeste (Trieste) hingga terus menuju Roma. Vicenza kemudian menjadi salah satu kota besar dalam sejarah Kekaisaran Romawi.
Hingga saat ini, Vicenza merupakan salah satu kota yang maju di Italia. Iklimnya yang hangat dan dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua membuat Vicenza menjadi salah satu kota yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. Dijadikan markas Angkatan Darat Amerika Serikat pada Perang Dunia II juga membuat Vicenza memiliki banyak situs-situs bersejarah.
Sama seperti kebanyakan kota di Italia, Vicenza juga memiliki kesebelasan bernama Vicenza Calcio yang saat ini bermain di Serie B. Generasi saat ini sangatlah wajar untuk tidak mengenal dan merasa asing dengan nama Vicenza. Soalnya, klub ini terakhir kali meraih gelar bergengsi pada 1997 dengan memenangi Coppa Italia, setelah mengalahkan Napoli di partai puncak.
Vicenza juga bukanlah anggota Il Magnifico Sette (Magnificent Seven Serie-A, yang berisikan Juventus, Duo Milan, dan tim-tim besar lain) yang menjadi wajah sepakbola Italia dalam dua dekade ke belakang. Padahal di era 1960-an hingga 1980-an, Vicenza adalah tim kuat Serie-A.

Kemilau Masa Lalu
Memasuki level kompetisi tertinggi sepakbola Italia pada pertengahan Perang Dunia kedua, tepatnya pada tahun 1942, Vicenza mengalami jatuh bangun dalam keberjalanan mereka di kompetisi sepakbola Italia. Sempat menang besar atas Juventus 6-2 di tahun pertama, sayangnya tiga tahun kemudian mereka degradasi ke Serie-B.
Vicenza sempat berganti nama menjadi Lanerossi Vicenza karena klub tersebut diakuisisi oleh perusahaan Wol dengan nama sama. Pada era 1950 hingga 1980-an Vicenza menjadi kekuatan superior dalam sepakbola Italia, bahkan kala itu mereka dijuluki Real Vicenza mengacu kepada permainan hebat dan disamakan dengan raksasa sepakbola Spanyol, Real Madrid.
Vicenza sempat berganti nama menjadi Lanerossi Vicenza karena klub tersebut diakuisisi oleh perusahaan Wol dengan nama sama. Pada era 1950 hingga 1980-an Vicenza menjadi kekuatan superior dalam sepakbola Italia, bahkan kala itu mereka dijuluki Real Vicenza mengacu kepada permainan hebat dan disamakan dengan raksasa sepakbola Spanyol, Real Madrid.
roberto baggio vicenza calcioVicenza kemudian menjadi tempat di mana legenda sepakbola Italia memulai kariernya, di antaranya adalah Paolo Rossi dan Roberto Baggio. Setelah menjadi kampiun Serie-B pada 1977, Presiden Vicenza kala itu, Giussepe Farina, kemudian mendatangkan penyerang muda Juventus, Paolo Rossi. Pembelian ini terbukti jitu. Rossi mencetak 24 gol dan membawa Vicenza bercokol di papan atas Serie-A.
The Divine Ponytail, Roberto Baggio, juga memulai kariernya di Vicenza. Baggio mulai bermain untuk tim utama Vicenza pada 1983, dengan melakukan debut melawan Piacenza, kala itu Baggio masih berusia 15 tahun. Setelah bermain selama tiga musim dan berhasil mencetak 13 gol, Baggio muda kemudian hijrah ke Fiorentina, karena tim asal Firenze tersebut bersedia membayarkan biaya operasi cedera Baggio yang tidak sanggup dilunasi oleh Vicenza.
Selain Rossi dan Baggio, ada nama-nama pesepakbola lain yang sempat bermain untuk Vicenza, mulai dari Ousmane Dabo, Mohammed Kallon, Francesco Coco, Massimo Ambrosini, Luca Toni, hingga Christian Maggio. Tidak hanya itu, sejumlah pelatih hebat pun sempat menangani tim berjuluk Biancorossi ini, antara lain Tarcisio Burgnich, Francesco Guidolin, dan Eduardo Reja, sempat ditunjuk untuk melatih Venezia.
Selain Paolo Rossi dan Baggio, ada nama-nama pesepakbola lain yang sempat bermain untuk Vicenza, mulai dari Ousmane Dabo, Mohammed Kallon, Francesco Coco, Massimo Ambrosini, Luca Toni, hingga Christian Maggio. Tidak hanya itu. Para pelatih hebat pun sempat menangani tim berjuluk Biancorossi ini, Tarcisio Burgnich, Francesco Guidolin, dan Eduardo Reja, sempat ditunjuk untuk melatih Venezia.

Jatuh Bangun dan Mencoba Bangkit

Ada sebuah kenyataan yang ironis terjadi setiap kali Vicenza berhasil menorehkan prestasi. Sudah disebutkan sebelumnya, bermain baik di musim perdana mereka di Serie-A, tiga tahun kemudian mereka harus mendapati kenyataan harus terdegradasi ke level kompetisi yang lebih rendah.
Tiga tahun setelah era Real Vicenza, mereka secara berturut-turut terdegradasi ke level yang lebih rendah, dan harus bermain di Serie C-1 selama lebih dari empat tahun. Kemunculan Baggio pada pertengahan 1980-an sempat membawa Vicenza ke Serie-A, namun lagi-lagi mereka harus terdegradasi sebagai bagian dari hukuman setelah terbukti terlibat dalam skandal pengaturan skor Totonero yang melibatkan banyak klub sepakbola Italia pada musim kompetisi 1986/1987. 
Bahkan setelah berhasil meraih gelar Coppa Italia pada 1997, dua tahun kemudian Vicenza kembali bermain di level kompetisi yang lebih rendah. Vicenza hanya mampu mengakhiri Serie-A musim kompetisi 1999/2000 di peringkat ke-16, yang membuat mereka kala itu terdegradasi bersama Torino, Cagliari, dan Piacenza.
Tidak bisa promosi dan harus bermain di Lega Pro (level ketiga kompetisi sepakbola Italia pengganti Serie-C dan level-level di bawahnya) pada musim kompetisi 2012/2013. Vicenza kemudian berhasil mengakhiri kompetisi di peringkat kelima, dan berhak bermain di babak play-off. Mundurnya Siena pada musim kompetisi 2014/2015 membuat Vicenza berhak promosi ke Serie-B.
Tanggal 9 Maret menjadi hari di mana Vicenza Calcio pertama kali didirikan oleh dua orang guru asal Veneto, yaitu Tito Buy dan Libero Scarpa lebih dari satu abad lalu. Sempat menjadi kekuatan besar dalam sepakbola Italia dan menelurkan pemain-pemain hebat bahkan menjadi legenda dalam sepakbola negeri tersebut, Vicenza kini tertatih-tatih dalam langkahnya untuk kembali ke level tertinggi sepakbola Italia.
Vicenza mengajarkan kita bahwa tidak ada suatu hal pun yang abadi, Nothing Last Forever. Yang pasti hari jadi ini tentunya bisa saja menjadi momentum kebangkitan dan membuat kita semua bisa saja tidak lama lagi akan menyaksikan Vicenza kembali berlaga di Serie-A. Sama seperti ketika Vicenza yang kembali bangkit dari reruntuhan sisa kejayaan kekaisaran Romawi di Palladian Villa de Veneto

Buon Anniversario Vicenza Calcio!

Monday, September 1, 2014

Pasca Kemenangan 3-1 Milan Atas Lazio

AC Milan memulai Serie A dengan menjanjikan. Menjamu Lazio di San Siro, Milan berhasil membungkam sang tamu dengan skor 3-1. Gol Keisuke Honda, Sulley Muntari, dan Jeremy Menez, hanya mampu diperkecil oleh gol bunuh diri Alex. Lazio sejatinya mampu mengimbangi permainan cepat Milan. Berkali-kali peluang demi peluang berhasil didapatkan. Namun skuat asuhan Stefano Pioli ini tak mampu menandingi serangan cepat yang diperagakan pemain Milan dengan menyisir sisi sayap.
Pada laga ini, Milan tak bisa menurunkan beberapa pemainnya. Philipe Mexes dan Mattia De Sciglio harus absen lantaran akumulasi kartu. Riccardo Montolivo masih belum sembuh dari cedera panjangnya. Sementara pemain anyar yang dipinjam dari Chelsea, Fernando Torres, belum bisa diturunkan karena baru tiba di Milan kemarin (31/08).
Milan menggunakan formasi andalannya 4-3-3, formasi yang memang menjadi andalan sang allenatore, Filippo Inzaghi. Kali ini Inzaghi coba bereksperimen dengan memasang Jeremy Menez menjadi penyerang tengah untuk melengkapi barisan penyerangan yang ditandemkan dengan Stephan El Sharaawy dan Honda.
Starting XI AC Milan v Lazio (31-08-2014)
Sementara di kubu Lazio, Biancoleste harus berlaga tanpa lima pemain andalannya. Federico Marchetti, Abdoulay Konko, Onazi, dan Gonzalez harus menepi karena cedera. Sedangkan Peireinha tak bisa diturunkan karena akumulasi kartu. Namun meskipun begitu, Lazio masih memiliki para pemain cadangan yang kualitasnya tak jauh berbeda dengan para pemain yang absen di atas. Formasi 4-3-3 pun coba dimaksimalkan dengan menurunkan beberapa pemain anyar seperti Stevan De Vrij,Dusan Basta, Marco Parolo, dan Seydou Keita.

Keberhasilan Serangan Balik
Bermain di kandang lawan tak membuat Lazio memainkan skema bertahan. Justru sebaliknya, Lazio bermain terbuka. Parolo dan Lucas Biglia menjadi instrumen di lini tengah Lazio. Akurasi umpan keduanya mencapai 90%, di mana Parolo mencatatkan empat key passes. Dari keduanya pula Lazio berkali-kali mampu merepotkan pertahanan Milan dengan mengalirkan bola pada Candreva dan Lulic yang memang menjadi tumpuan.
Kombinasi Umpan Parolo Dan Biglia
Dengan skema permain Lazio yang seperti itu, Milan dibuat lebih banyak bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Namun Milan memiliki El Sharaawy dan Honda yang mengisi pos penyerang sayap. Kecepatannya sangat diandalkan ketika melakukan serangan balik. Gol Honda pun tercipta melalui skema serangan balik cepat yang digagas El Sharaawy.
El Sharaawy yang menerima bola di sisi kiri membawa bola sendirian melewati dua orang pemain sebelum mengirim umpan daerah pada Honda yang berada di kotak penalti. Tak terkawal, Honda pun bisa mengecoh kiper Lazio, Berisha pada menit ke-7.
Serangan seperti ini ternyata lebih ampuh ketimbang serangan Milan yang dibangun perlahan-lahan ketika menguasai bola. Lini tengah Lazio yang dihuni Parolo, Biglia dan Lulic beberapa kali mampu meredam serangan Milan, berbeda dengan serangan balik yang membuat ketiganya kelabakan.

Milan Cenderung Mengalirkan Bola Kesisi Sayapnya
Hal ini terjadi lantaran ketika Milan melakukan serangan balik, fullback Lazio kurang baik dalam melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Basta dan Radu menjadi pihak paling yang bertanggung jawab atas dua gol Milan. Karena kedua gol tersebut berasal dari serangan sisi sayap yang tak mampu diantisipasi oleh dua pemain tersebut.
Radu dan Basta memang dituntut untuk aktif membantu lini penyerangan. Keduanya pun ditugaskan untuk memanjakan Klose dengan umpan silangnya. Tercatat sembilan kali total keduanya mengirimkan umpan silang ke dalam kotak penalti.

Umpan Silang Lazio yang Selalu Berhasil Digagalkan
Serangan Lazio sendiri lebih mengandalkan umpan silang. Hal ini dilakukan lantaran Lazio memiliki Antonio Candreva dan Senad Lulic yang bisa mengobrak-abrik sisi sayap pertahanan Milan. Keduanya ini wajib "menyuapi" Miroslav Klose yang memang handal dalam duel bola-bola atas.
Namun sayangnya serangan ini tak begitu efektif menghadapi Milan. Umpan silang yang dikirimkan ke kotak penalti selalu kandas dihalau oleh duo bek Milan, Alex dan Zapata. Pada babak pertama,dari 10 kali usaha yang dilakukan tak satu pun yang berhasil mengenai sasara.
Meski kemudian tertinggal lebih jauh menyusul gol yang diciptakan Jeremy Menez lewat titik putih, Lazio tetap tak mengubah skema permainannya. Upaya untuk membongkar pertahanan Milan yang dilakukan sang allenatore, Stefano Pioli, adalah dengan mengganti pemain, Djordjevic meggantikan Klose dan Felipe Anderson menggantikan Keita. Pergantian ini cukup berhasil karena gol bunuh diri Alex tercipta bola umpan silang yang diarahkan Djordjevic mengenai bek asal Brasil tersebut untuk meluncur ke gawangnya sendiri.
Setelah gol tersebut Lazio mulai mendominasi pertandingan. Apalagi setelah Inzaghi memasukkan Essien, Armero dan Niang untuk menggantikan Muntari, Honda dan Menez dan mengubah formasi menjadi 4-1-3-2.
Tampaknya alasan Inzaghi mengubah formasinya ini untuk membatasi pergerakan para pemain tengah Lazio yang begitu nyaman menguasai bola di area tengah lapangan setelah masuknya Stefano Mauri. Kapten Lazio yang sebenarnya itu memang memiliki kreativitas dan visi bermain yang cukup mumpuni.
Pablo Armero dipilih Inzaghi untuk menempati gelandang di sisi kiri, padahal biasanya pemain timnas Kolombia ini ditempatkan sebagai fullback atau wingback kiri. Tampaknya kecepatan yang dimilikinya diharapkan bisa berguna saat Milan melakukan serangan balik.
Dengan Milan yang memperkuat lini tengah, Lazio terus menggencarkan serangan lewat sisi sayapnya di mana Lulic dan Candreva secara bergantian bertukar posisi untuk mengecoh penjagaan lawan. Upaya terus menerus membongkar sisi sayap ini akhirnya berhasil pada tambahan waktu babak kedua, ketika Candreva berhasil menerobos ke area kotak penalti dengan kemampuan dribbling-nya. Candreva harus dijatuhkan di area terlarang sehingga Lazio mendapatkan hadiah penalti. Namun sayang, Candreva yang mengeksekusi sendiri penalti tersebut gagal membobol gawang Diego Lopez. Lopez dengan tepat membaca arah bola dan menepis tendangan Candreva. Skor 3-1 pun tetap bertahan hingga wasit meniupkan peluit panjang.

Pertahanan Solid Milan
Lini pertahanan Milan yang digalang Alex pun patut diacungi jempol. Kedisipilinan para pemain bertahannya ini berhasil membuat serangan umpan silang Lazio selalu bisa dipatahkan. Klose dibuat tak berkutik karena kesulitan mendapatkan bola.
Alex yang berpartner bersama Zapata pada posisi bek tengah bermain lugas dan disiplin dalam menjaga area kotak penalti. Keduanya melakukan 25 clearance dan 83% keberhasil tackle. Dan mereka tak sekalipun melakukan pelanggaran sepanjang 90 menit.
Inzaghi dengan baik mampu membaca pola penyerangan Lazio. Awalnya, Milan sempat menggunakan garis pertahanan tinggi. Namun setelah melihat Lazio yang mengusai lapangan tengah, Inzaghi menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih ke dalam menjaga area pertahanan.
Hal ini tentunya sangat tepat dilakukan untuk meminimalisir ruang kosong. Pada garis pertahanan tinggi, jarak antara kiper dan pemain belakang memiliki ruang yang tentunya akan sangat membahayakan jika berhasil ditembus pemain lawan. Apalagi Lazio yang memiliki gelandang yang selalu siap memanfaatkan celah tersebut.
nzaghi tampaknya tak mau mengambil resiko dengan memainkan garis pertahanan tinggi meski pada babak pertama serangan Lazio belum membuahkan hasil. Dengan garis pertahanan yang dimundurkan, celah dan ruang kosong di lini pertahanan berhasil dipersempit karena menumpuknya pemain Milan di area dekat kotak penalti.
Apalagi setelah unggul, Milan jelas perlu mempertahankan skor. Dan Inzaghi dengan kecerdikannya menyadari hal itu. Berkat perubahan skema bertahan ini, skor 3-1 pun berhasil diamankan hingga wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Kesimpulan
Keberhasilan Milan menekuk Lazio di kandangnya ini tak lepas dari kejelian Inzaghi yang memanfaatkan sisi sayap sebagai upaya untuk mencetak gol. Kredit khusus patut diberikan pada El Sharaawy dan Honda yang memainkan perannya dengan baik sebagai penyerang sayap.
Hasil ini tentunya menjadi hasil yang memuaskan bagi allenatore Milan, Inzaghi. Kemenangan ini juga akan memberikan kepercayaan diri pada para pemain dan Milanisti yang mendukungnya setelah mengalami rentetan hasil buruk pada laga pra-musim.
Konsistensi permainan seperti ini perlu ditunjukkan Milan hingga akhir musim. Dan itu memang wajib dilakukan mengingat kandidat tim juara lain akan terbagi konsentrasinya karena harus berlaga di kompetisi Eropa, sedangkan Milan hanya berlaga di kompetisi domestik. Jika Milan mampu melakukannya, tiga poin berikutnya bukan hal yang mustahil untuk diraih.

Sunday, August 25, 2013

Preview Liga Italia : Lazio v Udinese

Lazio dan Udinese menciptakan rivalitas tersendiri dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan berlanjut musim ini, dengan kemungkinan belum maksimal karena langsung tergelar pada pekan pembukaan. Persaingan kedua kubu memang jarang mengarah kepada gelar. Namun, titik fokus perseteruan tak jauh juga dari papan atas.
Ingatan Lazio dipastikan masih segar untuk kekecewaan dua musim lalu. Saat itu, Udinese yang meraih tiket ketiga (dan terakhir) ke Liga Champion. Lazio finis di peringkat keempat 2010/2011 dengan defisit dua angka saja. Semusim sebelumnya, Udinese kembali menjadi peraih jatah terakhir ke Liga Champion dengan Lazio kembali finis tepat dibaawh klub Udine itu. Klub ibu kota mendapatkan alasan untuk membenci Udinese.
Musim lalu, Lazio finis di peringkat ketujuh, tapi berkat gelar Coppa Italia bisa ke Liga Europa. Udinese yang peringkat kelima juga lolos ke ajang yang sama. Dengan persaingan ketat, wajarlah bila tim yang berlaku sebagai tuan rumah memaksimalkan keuntungan berlaga di depan publik sendiri itu. Lazio tentu bukan pengecualian. Terakhir kali Udinese menang saat Lazio menjadi tuan rumah terjadi pada 2008/09. Setelah itu, Zabrette hanya dua kali membawa pulang satu angka dari empat kesempatan.
Musim lalu, Biancocelesti bahkan menang tiga gol tanpa balas di Stadio Olimpico, dengan duet Hernanes dan Miroslav Klose mencatatkan diri masing-masing sebagai pencetak satu gol. Lazio pada Minggu (25/08) akan kembali bertumpu kepada produktivitas kedua pemain. Menuju pekan pertama, Lazio mengambil hikmah besar dari kekalahan telak di Supercoppa Italiana dari Juventus. Kesuksesan meraih Coppa Italia musim lalu menanklukkan tetangga, AS Roma, sudah mesti ditinggalkan. "Kami jelas harus menjejakkan kaki lagi di tanah. Kami mencoba melakukannya setelah menang di Coppa Italia dan harus melakukannya lagi. Kami mungkin tampil dengan kepercayaan diri kecil melawan tim sebesar Juventus saat belum bugar penuh", ucap Vladimir Petkovic, pelatih Lazio, di Rai Sport.
Udinese bukan tanpa ancaman. Dengan inti tim yang tak jauh berbeda dibandingkan musim lalu, klub besutan Francesco Guidolin itu tetap mengancap setiap klub. Hanya, Lazio tampak terlalu geram untuk bisa mereka bendung.

Friday, August 23, 2013

Preview Liga Italia | Sampdoria v Juventus

Juventus memulai kampanye mencatat gelar ketiga beruntun di Serie A dengan keharusan menghadapi momok terbaru mereka. Sampdiria bakal kembali menyiapkan Luigi Ferraris untuk mengganjal Si Nyonya Tua. Juve menegaskan ambisi mengakhiri musim dengan Scudetto lagi dengan peningkatan kekuatan. Fernando Llorente dan Carlos Tevez tampil sebagai rekrutan mentereng yang akhirnya dibuat La Vecchia Signora.
Salah satu ujian terbaik peningkatan itu langsung tergelar pada pekan pembukaan. Sampdoria, tuan ruma pada laga Sabtu (24/08), sudah lama berada di level papan tengah saja. Namun, selama lebih dari dua tahun terakhir, Il Samp mencatat sesuatu yang mengesankan. Klub dari kota Genoa itu menjelma sebagai momok bagi Juventus, raksasa yang tengah bangkit. Dalam lima pertemuan terakhir, Sampdoria tak pernah menelah kekalahan dari Juventus, tiga diantaranya bahkan berakhir dengan kemenangan skuat yang juga beralias I Blucerchiati itu.
Musim silam, Angelo Palombo dkk. menjadi satu-satunya tim yang menorehkan dua kemenangan atas Juventus. Wajar kalau Samp mengintip sekali lagi raihan tiga angka, bukan hanya satu, pada pekan pertama ini. Sampdoria juga akan mencoba meneruskan kiprah mengesankan kala meloloskan diri dari jerat degradasi dengan membukukan lima kemenangan dari sembilan laga terakhir mereka. "Juventus jelas merupakan tim yang sangat baik. Namun, kami hanya harus siap berlaga. Kami mesti mencetak gol, baru kemudian bisa berharap kemengangan. Saya berharap faktor kandang memberikan keuntungan kembali," ucap Delio Rossi, pelatih Samp, dikutin Secolo XIX.
Juve toh diperkirakan akan memulai mengembalikan dominasi terhadap Samp. Persiapan pramusim La Vecchia Signora berlangsung lumayan bagus, ditutup dengan kemenangan meyakinkan, 4-0, diajang Supercoppa Italiana atas Lazio akhir pekan lalu. Tevez segera menebarkan ancaman untuk para lawan dengan sebuah gol setelah tiga lainnya dicetak para awak lama Juve. Sang kampiun bertahan akan dengan mudah melupakan cedera Claudio Marchisio yang memaksa sang gelandang serang absen selama sebulan ke depan.
Transfer yang dibuat Sampdoria bolah tak semengkilap Juve. akan tetapi, efektivitasnya tampak menjanjikan. Beberapa nama anyar bersiap menembus tim pertama dan langsung mengejutkan Juventus. Salah satunya Manolo Gabbiadini, eks pemain Juve yang akhirnya dipinjamkan ke Bologna selama setahun musim lalu. Samp sangat mungkin meneruskan status sebagai penganjal nomor satu raksasa bernama Juve. Tak keliru menyebut Seria A akan tergantung Sampdoria start. Jika Samp gagal membendung Juve, scudetto tampaknya akan melayang lagi ke Si Nyonya Tua.

Tuesday, April 9, 2013

Ulasan Derby Della-Capitale 09-04-2013

Aroma panas selalu tersaji dalam setiap Derby della Capitale. Sebelum laga tadi malam bahkan terjadi kericuhan besar-besaran di luar stadion. Enam orang ditikam dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Panas di luar, panas juga di dalam. Di lapangan tercipta 34 foul, 7 kartu kuning, plus 1 kartu merah.
AS Roma yang menjadi tuan rumah gagal memanfaatkan keuntungan melawan 10 pemain Lazio. Pertandingan pun berakhir dengan skor imbang 1-1. Hasil ini sangat disayangkan karena biasanya kedua tim selalu saling mengalahkan. Terakhir kali kdua tim bermain imbang adalah di musim 2006/2007.
"Sayangnya kita membuang banyak peluang babak pertama. Tapi babak kedua berjalan lebih baik dan yang penting adalah bahwa kita tidak kalah," ucap sang kapten Fransesco Totti seusai pertandingan.
Lazio memang sempat unggul melalui Hernanes di menit 16, namun Totti menyamakan kedudukan di menit 59 melalui titik putih.

Lazio Menyerang dari Sayap
Menghadapi Lazio, tak seperti biasanya pelatih Roma, Aurelio Andreazzoli, tak menggunakan back-three yang kerap jadi andalannya. Jika di 5 laga terakhir ia menggunakan formasi dasar 3-4-2-1, di pertandingan tadi malam ia memakai 4-3-1-2. Konsekuesinya adalah membangkucadangkan Ivan Piris. Pada posisi duet center back, Andreazzoli lebih memilih duet Leandro Castan-Marquinhos ketimbang Burdisso-Marquinhos yang kerap jadi langganan starting eleven.
formasi sepak bola
Starting Line-Up
Dengan pola ini otomatis Torosidis dan Marquinho yang biasa dipasang sebagai wing-back mau tak mau mundur menjadi full-back. Terlihat sekali Roma agak getir menahan laju serangan Lazio yang kerap menyerang dari posisi sayap melalui Candreva dan Lulic.
Absennya Osvaldo terasa betul bagi Roma. Lini depan Il Giallorossi terasa pincang. Dua ujung tombak mereka di depan Totti dan Erik Lamela bukanlah tipikal striker murni. Kedua pemain ini lebih banyak berperan sebagai second striker. Imbasnya, lini depan Roma tampil kurang dominan dan lebih banyak berkutat di tengah sama seperti saat mereka ditaklukan Palermo 2-0 minggu lalu.
Di kubu lawan, menggunakan pola 4-1-4-1 terlihat Lazio ingin menguasai lapangan tengah sembari menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan. Miroslav Klose yang dipasang sejak menit awal, membuahkan hasil yang tak maksimal. Kendati begitu, srategi Vladimir Petkovic yang memasang Klose sejak menit awal berhasil membuat Roma melakukan kesalahan dengan hanya terfokus bertahan di kotak penalti dan melupakan second line.

Kuartet Klose - Lulic - Hernandez - Candreva
Di menit-menit awal, dipasangnya Marquinho sebagai full-back kanan membuat Roma sedikit kelabakan. Sebagai tipikal pemain dengan naluri menyerang, Marquinho selalu gagal menahan laju Antonio Candreva. Sampai menit 20 babak pertama, terlihat dengan jelas, Lazio memanfaatkan kelemahan ini. Candreva begitu dominan di sisi kanan penyerangan. (Lihat grafik di bawah ini: pergerakan Candreva di menit 1-15).
Pergerakan Candreva
Roma sebenarnya bisa mematikan Candreva dengan syarat De Rossi mampu menunaikan tugasnya dalam mengawal Hernanes. Sebab, suplai bola terbanyak yang diterima Candreva berasal dari lini tengah yang ditempati Hernanes. Tercatat, aliran bola kepada Candreva hampir 70% throughpass dari lini tengah. Pergerakan Alvaro Gonzalez yang berada tepat di belakang Candreva berhasil ditahan oleh Marquinho sehingga dia tak bisa leluasa memberi sokongan pada Candreva.
Sampai babak pertama usai, lini serangan Lazio hanya terfokus kepada sayap kiri Roma. Kelemahan Marquinho – Florenzi – De Rossi terus dieksploitasi Candreva – Hernanes – Klose dan Senad Lulic yang bahkan kerap bertukar posisi meninggalkan sayap kiri guna beroperasi di sayap kanan.
Kendati memasang Klose sendirian di depan, dengan cerdik Petkovic lebih banyak mengintruksikan Klose mundur ke luar kotak pinalti. Otomatis serangan sayap Lazio bukanlah diakhiri dengan crossing melainkan lebih banyak berupa tusukan ke dalam yang diakhiri dengan shooting langsung ke gawang. 
Posisi Klose yang sering turun ke luar kotak penalti juga disengaja dalam upaya untuk memaksimalkan peran Candreva atau Lulic yang menusuk ke kotak penalti dari sisi kanan dan kiri. Sedangkan Hernanes stand by di sekitar kotak penalti sembari menunggu bola rebound.
Untuk menciptakan gol, Lazio hanya menyerang melalui flank dan mengeksploitasi kelengahan De Rossi-Bradley yang terlalu mundur ke belakang dan menyisakan ruang tembak yang kosong di depan kotak penalti. Terbukti di babak pertama, Lazio berhasil mencetak 7 attempts yang satu di antaranya berhasil merobek gawang Roma yang dijaga Maarten Stekelenburg. Dan itu dilakukan oleh Hernanes yang sabar menunggu di luar kotak penalti.

Totti Mengambil Peran Lamela 
Kelemahan De Rossi langsung direspon Andreazzoli dengan menarik De Rossi dan memasukkan Mattia Destro di menit 53. Kondisi ini membuat barisan depan Roma kembali lebih hidup. Destro yang merupakan striker murni membuat Totti dan Lamela bisa lebih mundur ke belakang sebagai second striker.
Peran Lamela di laga ini agak kurang maksimal karena dijaga ketat oleh Senad Lulic yang membantu barisan pertahanan. Di laga ini Lamela diplot sebagai pemain bertipikal inverted winger di sayap kanan. Untuk mematikannya, Lulic dengan cerdik terus menjaga ruang di sisi dalam lapangan, mendesak Lamela terus ke pinggir, sehingga kesulitan cutting inside guna memaksimalkan kaki kirinya. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa sepanjang pertandingan, sebagai seorang playmaker, Lamela hanya mampu passing 14 kali, 7 di antaranya gagal.
Pergerakan Lamela
Peran Lamela yang tak efektif
Kendati begitu, Roma berhasil mengeksploitasi kelemahan sayap kiri Lazio yang dikawal Alvaro Gonzalez. Seperti yang sudah diuraikan di bagian sebelumnya, dominasi Candreva di sisi kanan penyerangan tidak diimbangi oleh Gonzalez. Dia terlihat canggung. Kurang agresif dalam menyokong Candreva tapi juga kerap kehilangan posisi saat bertahan.
Seperti diketahui, Gonzalez bukanlah pemain bertipikal full-back. Dulunya pun dia adalah penyerang sayap. Masuknya Dodo amat membantu peranan Totti. Sebelum masuknya Dodo, Il Capitano masih harus ikut berjuang mengamankan sisi kiri Roma yang berkali-kali dieksploitasi Candreva.
Masuknya Dodo membuat Totti bisa lebih fokus mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Lazio yang dijaga Gonzalez. Dari sinilah akhirnya Roma menemukan ketajaman lini serangnya. Data whoscored mencatat hampir 43% serangan Roma berasal dari sisi lapangan yang ditempati oleh Totti.

Pertahanan Lazio Rapi
Aroma panas memang selalu terasa di laga Derby Della Capitale. Dari 5 head-to-head terakhir selalu berujung dengan kartu merah yang keluar dari saku wasit. Dan di laga tadi malam kondisi serupa terjadi. Kartu merah yang diterima center back Lazio, Giuseppe Biava, ternyata tak membuat tensi pertandingan turun.
Keluarnya Biava langsung digantikan oleh Ciani dengan menumbalkan Ledesma. Otomatis Lazio bermain dengan pola 4-4-1 dengan tanpa seorang natural defensive midfielder di lapangan. Kesan yang terlihat adalah Petkovic tidak kehilangan nyali sedikit pun untuk mengendurkan serangannya.
Dan itulah yang terjadi. Kendati harus bermain dengan 10 orang nyaris di sepanjang babak II, Petkovic terus mengintruksikan anak buahnya menyerang. Statistik menunjukkan, pasca keluarnya Biava, Lazio berhasil membuat 5 attemps, masih lebih baik ketimbang Roma yang hanya mampu membuat 4 attemps.

Keberhasilan Lazio menahan Roma adalah mereka tidak terburu-buru melakukan tekanan pada Roma. Pemain Lazio lebih sering membiarkan Roma masuk lebih dulu ke pertahanan, baru kemudian pressing dilakukan. Catatan statistik menunjukkan, hampir 80 persen tackle yang dilakukan pemain Lazop dilakukan di daerah pertahanan mereka sendiri.
Selain itu, barisan pertahanan Lazio juga tampil dengan konsentrasi yang sangat baik. Mereka jarang melakukan kesalahan fatal di daerahnya sendiri. Dari 35 tackle yang dilakukan Lazio, 29 di antaranya adalah bersih.
Faktor lainnya adalah gemilangnya penampilan Federico Marchetti dalam menjaga gawang terutama ketika set-piece yang dilakukan Totti. Lima penyelamatan gemilang berhasil diselamatkan Marchetti di sepanjang babak kedua.

source : sport detik

Saturday, October 20, 2012

Preview : Lazio vs AC Milan

lazio vs ac milanKompetisi Serie A kembali bergulir setelah jeda dua pekan untuk pertandingan internasional. Pemain seperti Lulic, Cana, Klose, Candreva, dan Gonzales tidak punya waktu istrihata lebih banyak karena akhir pekan ini akan menghadapi klub yang menjadi sorotan di kompetisi Serie A musim ini, AC Milan. I Rossoneri mengawali musim ini dengan buruk dan sedang berada di bawah tekanan setelah kalah di derby Della Madonina melawan Inter Milan sebelum jeda internasional. Sebagai pelatih, Massiomiliano Allegri ingin melihat respon positif dari anak asuhannya di pertandingan kali ini setelah kekalah menyakitkan di derby tersebut.

Lazio vs AC Milan
Tanggal :20-10-2012
Tempat :Roma
Stadion :Olimpico
Wasit :Tagliavento
Waktu :20:45 CET

Libur kompetisi selama dua pekan sepertinya bukanlah waktu yang tepat bagi tim tuan rumah yang meraih streak kemenangan beruntun atas Siena, Pascera, dan Maribor setelah kekalahan menyakitkan dari Napoli. Petrovic pasti telah mengambil pelajaran dari pertandingan-pertandingan tersebut dan akan melakukan pendekatan dengan lebih hati-hati untuk menghadapi pertandingan kali ini. "Lazio mengagumi Milan dan memiliki rasa hormat yang perlu terhadap mereka, tapi kami tidak takut menghadapi tim manapun," ujar sang pelatih.Hal ini mengisyaratkan bahwa ia telah mempersiapkan para pemainnya untuk menghadapi pertandingan yang ketat akhir pekan ini, tapi satu hal yang harus di lakukan Lazio adalah memanfaatkan semaksimal mungkin kelemahan tim tamu yang tanpa kemenangan di dua pertandingan terakhir.
Awal musim ini menjadi hal yang sangat berat bagi Allegri setelah ia kehilangan beberapa figur penting di dalam tim seperti Ibrahimovic, Silva, Nesta, dan Seedorf. Selain hal tersebut, kampanya Milan di awal musim ini bisa di bilang buruk, hanya meraih tujuh poin dari tujuh pertandingan,  mencetak tujuh gol dan kebobolan tujuh gol, jelas bukanlah hasil yang di harapkan oleh tim yang memiliki lima gelar Liga Champion tersebut.
Kabar baik di dapat oleh kubu tuan rumah, untuk pertama kalinya di sepanjang musim ini, Lazio mendapatkan kabar bahwa tidak ada lagi pemain mereka yang menjalani terapi di ruang medis. Setelah lama menghilang, Brocchi dan Radu siap untuk tampil kembali meski belum fit 100% tapi mereka siap untuk bertanding selam 90 menit. Hal sebaliknya justru di alami oleh tim tamu, Robinho dan Abbiati di pastikan absen karena cider, sedangkan Pato meski sudah sembuh dari cidera tapi tidak memungkin kan untuk tampil di pertandingan kali ini. Selain ganguan cidera, AC Milan juga di landa masalah dalam hal mencetak gol karena sejauh ini hanya dua pemain yang pernah mencatatkan nama di papan skor yakni Pazzini dan El Shaaraw. 

Perkiraan Line-Up 
Lazio : 
Marchetti ; 
Konko - Biava - Diaz - Lulic ; 
Ladesma - Gonzalez ; 
Hernanes - Mauri - Candreva ; 
Klose

AC Milan : 
Amelia ;
Abate - Bonera - Yepes - De Sciglio ;
De Jong - Montolivo - Emanuelson - Boateng ;
Bojan - El Shaarawy