Showing posts with label #Spanyol. Show all posts
Showing posts with label #Spanyol. Show all posts

Monday, December 15, 2014

Mandzukic Lebih Baik Daripada Diego Costa

Mario Mandzukic Atletico Madrid Player
Sejak era Fernando Torres, Atletico Madrid selalu punya tradisi memiliki striker hebat yang kehadirannya silih berganti mengisi posisi ujung tombak klub ibu kota Spanyol tersebut. Kepergian Torres lantas mencuatkan nama striker Argentina, Sergio Aguero. Aguero hijrah ke Inggris untuk membela Manchester City, ada Diego Forlan yang menggantikannya. Forlan hengkang, lantas Atletico mendatangkan Radamel Falco sebagai gantinya. Falcao, striker asal Kolombia, pindah ke Prancis, jatah penyerang berdarah Brazil, Diego Costa, yang bersinar terang. Costa pindah ke Chelsea, lantas Mario Mandzukic didatangkan dari Bayern Muenchen.
Berlahan-lahan namun pasti, Mandzukic menunjukkan bahwa ia sanggup memilikul tradisi striker hebat di Atleti. Mantan penyerang Bayern Muenchen itu sudah mencobloskan bola kegawang lawan-lawan Atleti sebanyak 12 kali di seluruh ajang. Perincian dari 12 gol tersebut adalah enam gol di liga, lima gol dihasilkan di Liga Champion, dan gol tunggal di Piala Super Spanyol.
Satu lusin gol yang menjadi milik Mandzukic lebih banyak satu gol dibandingkan dengan yang diciptakan oleh mantan striker Atleti yang kini membela Chelsea, Diego Costa, yang baru meraih 11 gol bersama Chelsea pada waktu yang bersamaan. Perbandingan antara dua penyerang ini tentu tidak bisa dihindari lagi. Mandzukic tentu juga pahan akan kenyataan tersebut, begitu juga sang arsitek, Diego Simeone.
Mandzukic kini menjalani periode bagus. Ia membuat delapan gol dari sembilan pertandingan terakhirnya. Simeone menyebutkan hal itu bisa terjadi karena ada perubahan di tubuh Atletico. Simeone mengatakan mau tak mau ia harus mengubah cara main Atletico agar bisa sesuai dengan karakteristik Mandzukic.
Costa berbeda dengan Mandzukic. Costa begitu pas dengan gaya main Atletico pada musim lalu yang dominan dengan serangan balik. Sedangkan Mandzukic sendiri terbiasa bermain dengan gaya yang berbeda, dia lebih aktif di area kotak penalti. Di sisi lain, dua sektor sayap Atletico harus lebih hidup. Perubahan yang menghasilkan hasil maksimal tidak pernah didapat secara instan, sehingga perubahan dari cara bermain Atleti baru terlihat hasilnya belakangan ini..

Tuesday, November 6, 2012

Krisis Di Tubuh Barcelona

fc barcelona
Sebuah sundulan Javier Mascherano di laga kontra Glasgow Celtic (23/10) mengejutkan para Cules. Bagaimana tidak, sundulan Mascherano tersebut langsung menggetarkan jala gawang. Namun sayang, bukan gawang Celtic yang ia bobol melainkan gawang rekan setimnya sendiri, Victor Valdes. Tiga hari sebelumnya, Valdes juga harus menerima kenyataan dibobol oleh rekan setimnya sendiri berkat sontekan Jordi Alba ketika melawan Deportivo La Coruna (20/10). Maksud hati ingin membuang bola, tendangan Alba justru melambung melewati Valdes dan memberikan gol "gratis" kepada lawan.
Dua gol bunuh diri dalam dua pertandingan secara berurutan jelas bukan hal yang terbiasa dilakukan oleh Barcelona. Ini menjadi indikasi kuat bahwa ada krisis di tubuh Barcelona terutama ketidakstabilan di lini belakang Azugrana sejak tidak bisa diperkuat oleh duet bek andalan Carlos Puyol dan Gerard Pique. Kekompakan dan kesolidan yang selalu muncul ketika duet ini tampil tidak terlihat lagi dalam beberapa pertandingan terakhir.

Indikasi lain dari buruknya kinerja lini belakang tim Cataluna ini adalah jumlah kemasukan yang mereka alami hingga pekan kesembilan Liga BBVA yang mencapai angka 11. Jumlah ini adalah jumlah terbesar yang dirasakan oleh Barcelona dalam satu dekade terakhir. Bahkan angka tersebut akan bertambah besar jika memasukkan empat gol yang bersarang di gawang Valdes di ajang Piala Super Spanyol.

Kecendrungan yang terjadi saat ini adalah pertahanan Barcelona cepat kehilangan kosentrasi ketika mendapatkan tekan dari lawan. Hilangnya konsentrasi ini lah yang "memaksa" mereka untuk membuat blunder termasuk melakukan gol bunuh diri. Selain Mascherano dan Alba yang disebutkan di awal tadi, Daniel Alves juga berpartisipasi dalam memberikan gol cuma-cuma kepada tim lawan ketika laga melawan Spartak Moskva. Mascherano sendiri hingga saat ini telah menyumbang dua gol bagi tim lawan, satu gol bunuh diri lainnya dilakukannya saat bertemu Getafe.

Keberuntungan sepertinya masih berada di pihak penghuni Camp Nou ini, disaat krisi lini pertahanan yang kerap melakukan gol bunuh diri, barisan penyerang mampu menutupinya untuk tetap menjaga raihan tiga poin. Hingga pekan kesembilan, lini serang Barcelona telah menghasilkan 29 gol yang hanya minus satu gol dari jumlah yang dihasilkan pada musim lalu. Meskipun demikian, hal seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena suatu saat dewi fortuna akan menjauh dari barisan penyerang. Ketika waktu itu terjadi, sedangkan barisan pertahanan masih belum mendapatkan kestabilan, niat Barcelona untuk mengkudeta tahta yang diraih oleh Real Madrid pada musim lalu jelas akan terganggu.

Selaku pelatih, Tito Vilanova jelas tidak bisa diam saja melihat kenyataan yang terjadi di lapangan. Beruntung bagi para pendukung setia Barcelona karena Tito menyadari kelemehan timnya tersebut. "Kami akan memperbaiki semua aspek, mencetak banyak gol, dan mengurangi jumlah kebobolan. Kami akan berusaha untuk bisa melakukan semuanya dengan baik," ujar Tito.

Tuesday, October 9, 2012

Faktor Kesuksesan Timnas Spanyol

Kesuksesan tim nasional Spanyol menguasai dunia sepak bola dalam 10 tahun terakhir membuka mata dunia tentang kebijakan pemain lokal. Mayoritas klub-klub di Spanyol mempercayai kualitas pemain asal wilayah mereka sendiri atau wilayah lain di Spanyol. salah satu klub yang masih konsisten dengan centera policy selama puluhan tahun adalah Athletic Bilbao. Mereka kuat memegang teguh tradisi selalu menggunakan pemain bedarah Bosque.
Kalaupun pada musim ini ada Fernando Amorebieta sebagai pemain "asing", hal tersebut tak lepas dari faktor keturunan. Ayah Amorebieta asli orang Bosque, Amorebieta sendiri adalah didikan akademi Bilbao dan pernah membela timnas U-19 Spanyol. Namun, untuk level senior sang pemain  lebih memilih membela Venezuela, negara kelahirannya.
Bilbao termasuk klub yang konsisten mengirimkan bakat-bakat terbaik bagi La Furia Roja, saat Spanyol memulai debut di kencah internasional pada tahun 1920-an, dari 21 pemain yang terdaftar, 14 di antaranya berasal dari Bilbao. Tentu tidak hanya Bilbao yang masih mempercayai kualitas pemain lokal. Mayoritas klub-klub peserta Liga BBVA pun tetap melakukan investasi terhadap pemain lokal melalui akademinya. Sevilla, Valencia, Atletico Madrid, Real Betis, dan tentu saja Barcelona di kenal punya akademi berkualitas dan masih rajin mempromosikan pemain lokal binaan mereka.
"Tim-tim Spanyol bekerja serius dalam membina pemain muda. Para pemain yang ditarik umumnya berasal dari wilayah sekitar klub dan mulai bermain di Divisi Satu pada usia 16-17 tahun. Pada usia enam hingga delapan tahun tak ada kompetisi di akademi, mereka hanya berlatih. Baru di usia delapan sampai 10 tahun, mereka mulai bertanding dengan pengawasan. Setelah itu barulah mereka bermain lebih kompetitif"
Luis Astiazaran, Presiden LFP
Kuatnya keberadaan pemain lokal di klub-klub Spanyol tidak lepas dari unsur kedaerahan, Bilbao sangan bangga bisa terus memunculkan pemain-pemain asal Basque ke tim utama atau bahkan timnas Spanyol. Begitu pula dengan Barcelona yang menarik banyak pemain muda asal Catalan untuk berlatih di La Masia. Ketika mereka bisa tampil di tim utama, rakyat Catalan pun bakal ikut bangga. Atletico Madrid pun sama halnya dengan dua klub tersebut, mereka gencar menarik pemain muda berbakat dari wilayah Madrid selain itu Atletico juga masih mempercayai produk sendiri di tim utama.
Tak cuma itu, bagi pemain yang tidak berada di wilayah terdekat dengan klub-klub besar, tetap bisa mengharumkan nama daerah. Andres Iniesta adalah salah satu contohnya, dia kini menjadi warga kehormatan Fuentealbilla, kota kecil di provinsi Albacete. Iniesta sudah menjadi pahlawan Spanyol saat mencetak gol semata wayang di final Piala Dunia 2010. Namanya yang kerap disebut media secara tidak langsung membuat popularitas Fuentealbilla ikut terdongkrak. Kota-kota kecil lainnya  di Spanyol pun berlomba melahirkan pemain muda berbakat agar bisa mengharumkan nama kota maupun negara.
Keberadaan pemain lokal yang tetap dipertahankan di Spanyol membuat arus pemain asing tak sederas Premier League (Inggris) atau Serie A (Italia). Berkat kebijakan ini pula, Spanyol bisa mempunyai timnas mumpuni yang mampu meraih prestasi membanggakan. Di level klub, Spanyol pun sudah semakin diperhitungkan saat tampil di kompetisi Eropa.

Saturday, April 28, 2012

Barcelona Tanpa Guardiola

Stadion Sepak Bola - Pep Guardiola secara resmi menyampaikan kepada publik bahwa dia tidak akan lagi berada di kursi kepelatihan Barcelona untuk musim depan. Pasca kegagalan untuk meraih trofi yang terjadi dalam waktu seminggu Pep merasa bahwa sudah saatnya Barcelona memiliki seorang pelatih baru. Dua kegagalan tersebut terjadi di arena La Liga saat takluk dari Real Madrid dan di semifinal Liga Champion ketika menghadapi Chelsea, kedua pertandingan tersebut berlangsung di rumah Barca sendiri, Camp Nou !.

Meski para pengurus klub dan pendukung serta para pemain tidak mempermasalahkan dua kegagalan tersebut, namun Pep tetap pada pendiriannya bahwa dia telah gagal untuk menambah jumlah trofi di lemari Alzulgrana. Selama empat tahun melatih Lionel Messi, cs., Pep telah meraih 13 dari kemungkinan 16 trofi yang bisa di raih. Atas prestasi yang telah di ukirnya tersebut, Pep mendapat respon positif dari kalangan pelaku cabang olah bola ini. Tidak hanya kawan, namun pihak lawan pun menaruh respek terhadap prestasi yang telah ia ukir. 
Beberapa pernyataan para pelaku dunia sepak bola terhadap Pep Guardiola di antaranya adalah :
Presiden Barcelona (Sandro Rosell)
Saya berharap Pep masih melatih musim depan. 
Kapten Barcelona (Carles Puyol)
Saya tidak bisa membayangkan Barcelona tanpa Guardiola 
Gelandang Barcelona (Javier Mascherano)
Klub mana yang siap ditinggal pelatih paling sukses sepanjang sejarah ? 
Striker El Barca (Lionel Messi)
Barcelona tanpa Guardiola tak akan sama lagi. Akan sangat sulit menemukan pelatih lain yang bisa melakukan apa yang telah dia lakukan. 
Playmaker Alzulgrana (Xavi Hernandez)
Kami tidak siap untuk kepergian Guardiola 
Legenda Barca (Andoni Zubizarreta)
Guardiola punya nilai-nilai yang sangat dekat dengan klub. 
Striker Schalke 04 (Raul Gonzalez)
Sepak bola membutuhkan Pep. 
Kiper Real Madrid (Iker Casillas)
Guardiola adalah contoh untuk kita semua. 
Pelatih Spanyol (Vicente Del Bosque)
Pada Guardiola, saya suka semua hal yang dia lakukan. 
Eks-pelatih Italia (Marcelo Lippi)
Guardiola melatih tim terbaik di dunia. 
Mantan bintang Barca dan Madrid (Luis Figo)
Guardiola seperti saudara saya sendiri.
Meski pada awal penunjukan nya, Pep di ragukan oleh banyak pihak namun pada kenyataannya adalah dia adalah pelatih tersukses yang pernah di miliki oleh Barcelona. Selain dari segi gelar yang di raih, Pep juga menjadi pelatih dengan persentasa kemenangan terbesar hinga mencapai angka 75%.

Biodata Josep "Pep" Guardiola menurut data dari wikipedia
Nama lengkap : Josep Guardiola
Tempat lahir : Santpedor, Spanyol
Tanggal : 18 Januari 1971
Tinggi badan : 182 cm
Posisi saat bermain : Gelandang bertahan

Gelar yang di raih :
Pemain :
La Liga Spanyol : 1990-91, 1991-92, 1992-93, 1993-94, 1997-98, dan 1998-99
Copa del Rey : 1996-97, dan 1997-98
Piala Super Spanyol : 1991, 1992, 1994, dan 1996
Piala Champion : 1991-92
Piala Winners : 1996-97
Piala Super Eropa : 1992 dan 1997
Emas Olimpiade : 1992

Pelatih :
La Liga Spanyol : 2008-09, 2009-10, dan 2010-11
Copa del Rey : 2008-09
Piala Super Spanyol : 2009, 2010, dan 2011
Liga Champion : 2008-09 dan 2010-11
Piala Super Eropa : 2009 dan 2011
Piala Dunia Antar Klub : 2009 dan 2011

Sunday, April 15, 2012

Lionel Messi Masih Lebih Baik Dari Cristiano Ronaldo

Sudah menjadi rahasia umum jika kita membahas siapa pemain sepak bola terbaik di seluruh dunia saat ini. Perdebatan itu selalu memunculkan dua nama, yakni Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Tidak ada kata akhir jika membahas siapa yang lebih baik di antar keduanya. Meski masing-masing pemain memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tetap juga membuat publik ingin tau siapa yang lebih baik di antar keduanya. 
Dalam penganugrahan pemain terbaik pun dua nama ini selalu bersaing selama tiga edisi terakhir. Secara umum memang Cristiano Ronaldo lebih unggul di bandingkan Lionel Messi. Tapi, jika melihat peran sang pemain tersebut ketika menghadapi laga-laga besar kebintangan Messi jauh mengungguli CR7. Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo, siapa lebih baik ? Jika anda masih bingung, berikut adalah beberapa pertandingan besar yang di lakoni oleh CR7 dengan penampilan di bawah standar yang mengakibatkan Messi lebih layak menyandang status sebagai pemain terbaik di dunia saat ini.

Daftar pertandingan besar kegagalan Cristiano Ronaldo :
  • Final Piala Eropa 2004, meski pada saat itu masih berusia 19 tahun namun ia telah menjadi tulang punggung klubnya Man. Utd dan di harapkan mampu menampilkan penampilan terbaiknya pada penyelenggaran yang di laksanakan di tanah sendiri. Tapi apa daya, CR7 tidak mampu berbuat banyak saat Portugal di kalahkan oleh Yunani (0 - 1).
  • Semifinal Piala Dunia 2006, sempat terjadi insiden antar dua pemain yang sama-sama membela panji Man. Utd di perdelapan final. Insiden yang melibatkan CR7 dari Portugal dan Rooney dari Inggris yang berujung pada kartu merah yang di terima oleh Rooney. Hal ini membuat sejumlah fans Inggris yang hadir di pertandingan selanjutnya  mengejek CR7 saat menghadapi Prancis. Entah berhubungan atau tidak CR7 tampil buruk yang mengakibatkan Portugal tumbang di tangan Prancis.
  • Leg II semifinal Liga Champion 2007 vs AC Milan, di matikan oleh Gennaro Gattuso membuat CR7 tidak bisa berbuat banyak saat Man. Utd di permak tigal gol tampa balas oleh Milan.
  • Final Piala FA 2007, pertahanan Chelsea di bawah asuhan Mourinho yang di galang oleh Makalele, Obi Mikel, Essien, dan Terry membuat CR7 merasakam kekalah di sebauh partai final. Man. Utd takluk 0-1 dari Chelsea.
  • Final Liga Champion 2009, menghadapi Barcelona yang pada saat ini tengah berada dalam penampilan terbaiknya membuat CR7 tidak berkutik ketika melihat papan skor dengan kemenangan 2-0 milik El Barca.
  • Perdelapan final Piala Dunia 2010, berada di puncak kejayaan sebagai seorang pemain, CR7 tidak bisa berbuat banyak saat kekalahan 0-1 Portugal atas Spanyol.
  • El Classico, pertandingan El Classico semakin membuktikan bahwa CR7 selalu meredup di saat melakoni pertandingan besar. Setidaknya CR7 mati kutu ketika Madrid takluk 0-2 dari Barca pada leg II semifinal Liga Champion 2010/2011 dan kekalahan 1-3 El Real di El Classico terakhir.