Showing posts with label #Legend. Show all posts
Showing posts with label #Legend. Show all posts

Monday, October 8, 2012

Pemain Legendaris Indonesia

Legenda sepak bola Indonesia, itulah tema yang coba saya angkat pada artikel kali ini. Tidak adil rasanya jika saya selaku pecinta dunia sepak bola yang tinggal di Indonesia tidak mengangkat tema yang satu ini karena pada artikel-artikel sebelumnya saya hanya merangkum informasi mengenai pemain sepak bola terbaik yang berasal dari luar saja.
Khusus pada tema kali ini, saya tidak membuat per-posisi (kiper terbaik, bek terbaik, gelandang terbaik, ataupun striker terbaik) tapi secara keseluruhan. Di antara para pemain yang legendaris ini mungkin kita tidak pernah menyaksikan kehebatan mereka secara langsung, meskipun demikian kita tidak bisa melupakan jasa-jasa yang telah mereka berikan untuk kejayaan sepak bola tanah air.
Maaf ada yang ketinggalan untuk di sampaikan, pada tema pemain legendaris Indonesia kali ini saya tidak sekadar membahas mengenai permainan di lapangan tapi juga memberikan informasi mengenai kehidupan mereka saat ini setelah gantung sepatu. Dari informasi tersebut, sungguh sangat di sayangkan para pemain yang telah membuat harum dunia bal-balan di negri ini harus menjalani masa pensiunya tanpa mendapat perhatian dari para pengurus organisasi (PSSI).
1. Peri Sandria
Sebagai pemain, nama Peri Sandria sangat di segani oleh bek lawan. Kini pemilik rekor pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia selama satu musim kompetisi dengan 34 gol itu telah menciptakan rekor lain saat beralih profesi menjadi seorang pelatih.

2. Saleh Ramadaud
Postur Saleh Ramadaud bisa di kategorikan tidak proposional untuk menjadi seorang pemain sepak bola terlebih lagi jika itu untuk menjadi seorang stoper tangguh. Tapi, berkat ketekukan dan kerja kersanya, dia selalu menjadi pilihan utama di lini belakang timnas Merah Putih di era kepelatihan Tony Pogacknik.

3. Malawing
Sebagai seorang pemain profesiona, Malawing hanya membela dua klub selama berkarir di dunia sepak bola. PSM Makasar dan Niac Mitra adalah dua klub yang menjadi tempat sang pemain untuk menjadi yang terbaik. Meski hanya memperkuat dua klub, berbagai trofi juara berhasil di raihnya. Ia menjadi bagian dari timnas Indonesia pada tahun 1974-1980

4. Singgih Pitono
Kisah hidup Singgih Pitono sangatlah lengkap. Dia pernah menjadi bintang Arema Malang yang dipuji-puji oleh para fans fanatik, Aremania. Kaus berlambang Garuda di dada dikenakannya selama tiga tahun membela panji Merah Putih pada tahun 1991-1993.

Pada kesempatan kali ini cukup empat pemain tersebut yang saya bahas dan akan di lanjutkan pada kesempatan berikutnya. Adapun para pemain legendaris selanjutnya yang akan coba saya bahas adalah :
1. Kurniawan Dwi Yulianto
2. Widodo C Putro
3. Kurnia Sandi
4. Aji Santoso
5. Ronny Pattinasarani

Sunday, October 7, 2012

Singgih Pitono : Gading Langka Arema

Kisah hidup Singgih Pitono sangat lengkap. Dia pernah menjadi bintang Arema yang dipuja-puja Aremania. Kaus berlambang Garuda dikenakannya selama tiga tahun membela timnas pada tahun 1991-1993. Namun, kehidupan terkini Singgih kontras dengan segala atribut gemilang yang pernah diukirnya saat menjadi pesepak bola top di Indonesia. Setelah gantung sepatu pada tahun 2004, top scorer Galatama dua musim berturut-turut (1991 dan 1992) itu menikmati hidupnya sebagai pelatih kepala pada akademi Arema di Kecamatan Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, tempat kelahirannya.
"Mungkin, perjalanan hidup saya tak mudah dijalani mantan pesepak bola top lainnya. Bagi yang pernah jadi pemain terkenal, kehidupan yang saya alami ini akan terasa berat. Saya berasal dari keluarga susah yang hidup di desa. Jadi, kehidupan saat ini saya anggap biasa, sudah ditetapkan Tuhan," tutur legenda hidup Singo Edan ini.
Suatu saat, kala merenung, Singgih mengaku ingin seperti dua sobatnya di Arema, Aji Santoso dan Joko Susilo, yang sukses sebagai pelatih setelah gantung sepatu. Namun, ambisi itu akhirnya dikuburnya. "Saya bias mengukur kemampuan saya. Bagi saya, melatih anak-anak di akademi Arema ini bagian dari ibadah. Di sini saya dapat kepuasan," ungkapnya. Menurut Singgih, ada kebanggan yang tak bisa dinilai dengan materi, yakni penghargaan tulus dari publik sepak bola, terutama dai Tulungagung dan Malang. "Saat ultah Arema di Stadion Kanjuruhan, saya terenyuh dengan sambutan Aremania yang masih ingat saya. Padahal, kejayaan itu telah berjalan dua puluh lima tahun yang lalu. Kepuasan tidak hanya dari materi, tapi juga nama baik. Ini lebih langgeng daripada harta melimpah. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati menyisakan belang." katanya.
Ada kebanggaan lain yang menghinggapi Singgih Pitono. Putra bungsunya, Zakaria Safiq, mewarisi kehebatannya sebagai penyerang haus gol. Meski berusia sembilan tahun, Singgih melihat gaya bermainnya menurun pada Safiq. "Saya menaruh harapan pada Safiq. Dia cerdas dan punya gaya seperti saya. Terutama akurasi tendangan ke gawang,: ujarnya.

Data diri :
Nama : Singgih Pitono
Lahir : Tulungagung, 15 Mei 1967
Postur : 173cm / 65kg
Klub yang pernah di bela : Arema Malang, Petrokimia Putra, Putra Samarinda, Persema Malang, Perseta Tulungagung.

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, halaman 12, edisi 3-5 September 2012

Malawing : Petarung Yang Sederhana

Sebagai pemain Malawing hanya membela dua klub, PSM Makassar dan Niac Mitra. Meskipun begitu, berbagai trofi juara pernah di rengkuhnya. Ia pernah memperkuat timnas Indonesia pada 1974-1980. Bersana timnas, Malawing pernah menembus semifinal President Cup 1980 di Korsel. "Kala itu persaingan masuk timnas sangat ketat. Alhasil PSSI punya tiga timnas yang kekuatannya sama," ujar Malawing yang tergabung dalam PSSI Banteng.
Akan tetapi, sosok yang sederhana ini mengaku sukses terbesarnya adalah membawa Niac Mitra menjuarai Aga Khan Cup 1979. "Saat itu semua tim terkkuat di Asia ikut tampil. Termasul klub asal Korsel yang kami kalahkan 4-1 di semifinal," ungkap mantan bek kanan ini. Semua itu tinggal kenangan, kini Malawing menghabiskan waktunya sebagai karyawan lepas di lapangan Kerebosi, Makassar.
Sebelumnya, Malawing sempat bertahun-tahun menjadi ofisial bagian umum di PSM Makassar. Ia menjadi sosok yang paling dicari ketika seragam atau perlengkapan Juku Eja kurang lengkap di Liga Indonesia 2000. Tapi, tiga tahun yang lalu manajemen PSM tidak lagi memakainya. Kenyataan itu membuat Malawing kembali menghabiskan waktunya tak menentu di lapangan Karebosi. Hingga suatu saat dia bertemu dengan Ilham Arif Sirajuddin, Wali Kota Makassar, yang sedang joging di lapangan itu. "Beliau meminta saya mengurusi lapangan," ungkapnya.
Meski honornya kecil, Malawing menerima tugas itu. "Bukan semata soal uang, tapi saya mendapatkan kepuasan karena setiap hari menginjak rumput lapangan Kerebosi,' kata Malawing, yang kerap menjadi wasit dadakan buat tim penyewa lapangan.
Bagi Malawing, pekerjaan petugas lapangan merupakan titik akhir sabagai insan sepak bola. "Lewat sepak bola, saya sudah mendapatkan segala yang saya inginkan. Tempat tinggal, menyekolahkan anak, dan yang utama memberangkatkan orang tua naik haji," katanya. Khusus yang terakhir, Malawing mengaku menyimpan kebanggaan tersendiri. "Salah satu alasan saya menerima tawaran Niac Mitra karena nilai kontraknya oas dengan biaya perjalanan haji buat ibu saya, Hajjah Kabi (alm.)." kata pemain yang pertama kali bergabung dengan Niac Mitra pada tahun 1997 tersebut.

Data diri :
Nama : Malawing
Lahir : Bone, 16 September 1952
Istri : Suryani
Anak : Mashuri, Mansyur, Maksum, Mansir, Musda M
Karier : PSM (1972-77), Niac Mitra (1977-82), PSM (1982-86)
Prestasi : Juara Soeharto Cup (1974/timnas), Juara Kings Cup (PSM/1974), Juara Aga Khan Cup (1979/Niac Mitra)

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, Halaman 12, edisi 10-12 September 2012

Saleh Ramadaud : Tembok Mungil Merah-Putih

Postur Saleh Ramadaud terbilang kecil untuk ukuran stoper. Tapi, berkat ketekukan dan kerja kerasnya. Dia selalu masuk skuad utama timnas di era Tony Pogacknik. Dengan tinggi 161 cm, sulit membayangkan Saleh bisa memenangi duel bola atas. Terutama saat menghadapi tim-tim luar negeri tertutama dari Eropa. Di era 1960-1970-an, timnas adalah pelanggan turnamen bergengsi Asia.
Saleh mengaku tidak mudah baginya mendapatkan lompatan vertikal di atas rata-rata tanpa latihan spartan. "Usai latihan reguler bersama tim, saya latihan sendiri untuk mengeliminasi kekurangan tinggi badan," ujar Saleh. Selai itu, Saleh mengaku sering bertukar pikirang dengan rekan duetnya di lini belakang baik di PSM Makassar maupn timnas. Di timnas, dia bersama Anwar Ujang kerap berdiskusi. 
"Saya yang bertugas mematikan stiker lawan sedangkan Anwar berperan sebagai pelapis dan pemberi komando di lini belakang," kenang Saleh. Sebagai pemain, Saleh sudah mendapatkan segalanya baik di klub maupun timnas. Kini, Saleh yang berstatus pensiunan PNS Pemprov Sulawesi Selatan sejak 2002 lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pelatih sekolah sepak bola (SSB) Panasoni Makassar.
"Kepuasan terbesar mantan pemain adalah menghasilkan pemain yang bisa menjadi penerusnya di masa datang," ujar Saleh. Salah satu anak didiknya adalah Zulkifli Syukur, bek timnas. Saleh mengantongi sertifikat kepelatihan nasional pada tahun1975 dan berguru di Australia pada tahun 1979. "Tapi, status saya sebagai PNS menjadi kendala. Praktis saya hanya pelatih lepas di klub amatir atau SSB," ujar Saleh.
Sebagai mandan pemain, Saleh mengaku sedih dengan prestasi sepak bola Indonesia yang terus merosot. Padahal minat anak=anak dan dukungan orang tua saat ini jauh lebih besar di bandingkan dulu. Indikatornya SSB kian menjamur. "Sayang pembinaan dan metode kepelatihan di SSB banyak yang salah kaprah," katanya. Dia merujuk adanya SSB yang masih mengutamakan latihan fisik buat pemain yang masih di bawah umur.

Data diri :
Nama : Saleh Ramadaud
Lahir : Makassar, 4 Januari 1946
Postur : 161 cm / 57 kg
Istri : Syamsiah
Anak : sembilan orang
Status : Pensiunan PNS Pemprov Sulsel
Karier : PSM Makassar (1965-74)
Timnas : Timnas senior (1968-74)
Prestasi : Juara Perserikatan PSSI (1965), Juara Kings Cup Thailand (1968), Juara Merdeka Games Malaysia (1969)

Saturday, October 6, 2012

Peri Sandria : Impikan Lisensi A

Sebagai pemain, nama Peri Sandria sangat disegani oleh bek lawan. Kini pemilik rekor pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia dalam satu musim kompetisi dengan 34 gol itu telah menciptakan rekor lain saat menjadi pelatih.
Di musim kompetisi 2009-2010, Peri dipercaya menangani PS Siak yang berada di Divisi II. Target lolos ke Divisi I menjadi beban Peri. Hasilnya, ia sukses membawa tim asal Riau tersebut lolos ke Divisi I dengan rekor tak terkalahkan dalam 14 laga. Hanya semusim, suami dari Harianingsih, mantan pevoli nasional, itu hijrah ke Persipon Pontianak klub Divisi I. Sayang ia gagal mengantarkan timnya tersebut lolos ke Divisi Utama. Namun, hal ini tak menyurutkan niat PS Siak untuk kembali menggunakan jasanya setelah di musim yang sama gagal naik ke Divisi Utama.
Sebagai mantan pemain, karier kepelatihan pria kelahiran Tandem, Binjai, 24 September 1969 memang tersendat. Peri memulai karier kepelatihannya sebagai asisten pelatih Persipo Purwakarta di Divisi II tahun 2004. Selanjutnya ia hanya menangani tim-tim gurem atau klub amatir. Hal itu juga disebabkan oleh lisensi kepelatihan Peri yang mentok di lisensi B nasional, yang diraihnya pada tahun 2008.
Sayang memang karena dari segi usia Peri yang saat ini telah berumur 42 tahunmengaku tidak bisa lagi mengambil lisensi pelatih A Nasional maupun AFC. Menurut Peri, batasan umur untuk lisensi A AFC maksimal adalah 40 tahun.
"Mudah-mudahan ada rekomendasi khusus dari PSSI buat mantan pemain timnas. Selain itu juga bisa mendapatkan dispensasi biaya agar tidak terlalu memberatkan," kata Peri yang merasa di tinggalkan dan dilupakan oleh PSSI.
Ia merasa beruntuk masih ada orang-orang yang peduli dengannya, seperti dari pihak Retower yang memberikan apresiasi beberapa waktu yang lalu. Peri merasa perhatian pemerintah terhadap mantan atlet di negara ini sangat kurang, jauh berbeda dengan yang di rasakan oleh para mantan atlet di Cina yang mendapatkan tunjangan seumur hidup bila berprestasi tinggi.

Data diri :
Nama : Peri Sandria
Panggilan : Peri
Lahir : Tandem, Binjai, 24 September 1969
Istri : Harianingsih
Anak : Peni Leonita Sandria
Tim favorit : Timnas Jerman, Bandung Raya, Kramayudha Tiga Berlian
Pemain favorit : Karl-Heinz Rummenigge, Herry Kiswanto
Prestasi : Medali emas SEA Games 1991, Pencetak gol terbanyak Liga Indonesia 1995-1996 (34 gol)
Karier klub : Diklat Ragunan (1986-89), Kramayudha Tiga Berlian (1989-91), Assyabaab Salim Grup (1991-93), Putra Samarinda (1993-94), Mastran Bandung Raya (1994-98), Persib (1998-99), Persikabo (1999)
Karier timnas : Timnas senior (1989-97)

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, halaman 12, edisi 17-19 September 2012