Showing posts with label #Nasional. Show all posts
Showing posts with label #Nasional. Show all posts

Thursday, November 17, 2016

Bisa Apa Indonesia Tanpa Irfan Bachdim?

Irfan Bachdim Indonesia
Irfan Bachdim cedera panjang, padahal ia adalah salah satu andalan utama dalam strategi Alfred Riedl untuk timnas Indonesia. Lalu apa yang bisa timnas lakukan tanpa Irfan?
Mimpi buruk itu datang hanya empat hari menjelang pertandingan pertama tim nasional Indonesia di AFF Suzuki Cup 2016. Ia datang dalam bentuk berita yang tak enak didengar: bahwasannya Irfan Haarys Bachdim dinyatakan cedera tulang fibula yang membuatnya tak bisa tampil di AFF Suzuki Cup 2016. Cedera ini ia dapatkan dalam latihan pagi hari, setelah mendapatkan tekel dari rekan setimnya, Hansamu Yama. “Tadinya saya mau rebut bola tapi gak taunya sampai separah itu,” akunya.
Menurut Syarief Alwi, kepala dokter timnas, penyembuhan untuk cedera seperti yang dialami Bachdim memerlukan waktu dua bulan. Musnah sudah harapan Irfan untuk membela Merah Putih di ajang internasional lagi. Ironisnya, dua tahun yang lalu, pemain Consadole Sapporo ini juga harus absen di turnamen yang sama, juga karena cedera.
Kemalangan Irfan ini juga merupakan nasib buruk bagi timnas. Tak ada yang menyangkal, bahwa Irfan adalah salah satu pemain terbaik di timnas saat ini. Beberapa uji coba yang telah dilalui Skuat Garuda menunjukkan bahwa pemain yang juga pernah bermain di Thai Premier League ini sedang dalam performa terbaiknya. Total, ia mencatatkan tiga gol dan satu assist dalam tiga pertandingan uji coba timnas yang dilakoninya.
Alfred Riedl jelas pusing. Masalahnya, tak ada pemain lain yang sebaik Irfan di bangku cadangan timnas. Beberapa penyerang lain yang dicoba di lini depan Indonesia dalam beberapa uji coba terakhir, termasuk Lerby Eliandry dan Ferdinand Sinaga, tak ada yang mampu memberikan dampak sebesar Irfan.
Irfan memang sangat diandalkan oleh Riedl dalam strateginya untuk memberikan pressing sejak wilayah pertahanan lawan. Kecepatan, energi, dan determinasinya yang luar biasa membuatnya sebagai pemain terbaik di skuat Garuda dalam melaksanakan tugas ini. Lihatlah bagaimana dia secara luar biasa membuat para pemain belakang Malaysia keteteran, dalam laga uji coba di Manahan, Solo, awal September lalu. Kemenangan 3-0 Merah Putih di laga itu sebagian besar disebabkan oleh pemain kelahiran Belanda ini.
Kontribusi yang sama besarnya juga ia perlihatkan di laga-laga berikutnya, termasuk saat menghadapi Vietnam di kandang dan tandang. Masalahnya, strategi pressing tinggi itu adalah andalan utama Riedl untuk timnas saat ini. Lantas, tanpanya, apa yang bisa dilakukan oleh Riedl?
Ada dua opsi yang mungkin dipilih oleh Riedl. Pertama, menggunakan skema yang sama dengan penyerang lain dimasukkan untuk menggantikan Irfan. Ini pernah dicoba Riedl dengan memainkan Lerby sebagai starter di pertandingan tandang melawan Myanmar pada awal November lalu, karena Irfan baru pulih dari cedera. Namun perlu dicatat, bahwa hasil yang didapatkan timnas sendiri kurang bagus. Selain tak bisa mencetak gol, Indonesia juga jarang memiliki peluang bagus di sepanjang pertandingan.
Mengingat lawan-lawan Indonesia di Grup A AFF Suzuki Cup nanti adalah Thailand dan Filipina, yang saat ini berada di atas level Myanmar, bisa dikatakan bahwa opsi ini kurang bijak untuk digunakan. Menggunakan Ferinando Pahabol mungkin bisa dicoba juga, terutama karena ia sudah terbiasa bermain dengan Boaz di lini depan Persipura Jayapura, tapi memainkannya langsung di laga perdana kontra sang juara bertahan, Thailand, sepertinya adalah sebuah perjudian. Apalagi, pengalaman internasional Pahabol pun belum terlalu banyak. Tercatat, pemain berusia 24 tahun ini baru sembilan kali bermain di tim nasional U-23 dan belum tampil sama sekali di timnas senior.
Opsi kedua, menurut saya pribadi, lebih baik untuk dicoba di laga pertama kontra Thailand pada hari Sabtu nanti: menggunakan skema satu penyerang dengan satu gelandang serang tambahan di lini tengah.
Ada dua keuntungan dari opsi ini. Pertama, Riedl tak perlu khawatir lagi soal penyerang pengganti Irfan yang tak sebaik eks penyerang Persema Malang tersebut. Kedua, opsi ini bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan lini tengah yang kurang solid karena minimnya gelandang bertahan berkualitas tinggi.
Permasalahan lini tengah memang masih menghantui timnas bahkan hingga uji coba terakhir mereka kontra Vietnam di Hanoi. Sementara posisi Evan Dimas sudah hampir bisa dipastikan, rekan utamanya di lini tengah masih kerap dicoba-coba. Setelah Bayu Pradana dan Dedi Kusnandar dicoba, dalam laga uji coba terakhir itu, Stefano Lilipaly yang akhirnya bergabung dengan timnas pun dijajal.
Hasilnya memang lumayan: Lilipaly bermain sangat baik dan memberikan kontribusi bagi salah satu gol timnas. Namun Evan jadi korbannya: karena Fano bermain lebih menyerang, Evan harus lebih banyak menjaga wilayah di depan empat pemain belakang dan hal ini membuatnya tak bisa banyak berkreasi - keunggulan utama dalam permainannya. Kemampuan bertahan Evan yang tak terlalu bagus pun membuatnya tak bisa menjalankan tugasnya untuk menghentikan serangan lawan dengan baik.
Mengorbankan satu penyerang untuk menambah satu pemain tengah akan memberikan jawaban atas permasalahan ini. Melihat performanya dalam laga kontra Vietnam, Fano memang layak mendapatkan posisi inti di timnas dan ia pun bisa mengisi posisi Irfan. Ia bisa mengisi posisi gelandang serang di belakang Boaz Solossa, dan bisa bergerak aktif di sepertiga lapangan akhir, sementara Evan bisa mendapatkan lebih banyak kebebasan untuk berkreasi karena satu posisi lainnya bisa diberikan bagi Bayu atau Dedi.
Daya gedor timnas mungkin akan sedikit berkurang karena Fano tidak diposisikan satu garis dengan Boaz di lini depan, tetapi ia tetap bisa memberikan pressing sejak wilayah lawan jika digunakan sebagai gelandang serang sebagaimana ia dimainkan dalam uji coba terakhir Merah Putih. Jangan lupa, Fano juga memiliki kemampuan bertahan yang lumayan, yang membuatnya kerap dimainkan sebagai bek kanan di SC Telstar, klubnya di Eerste Divisie.
Seperti apa opsi yang dipilih Alfred Riedl baru akan kita ketahui dalam laga perdana kontra Thailand nanti. Perlu dicatat bahwa Riedl belum mencoba formasi selain sistem dua penyerang dalam empat pertandingan uji coba yang sudah dijalani timnas. Namun mengingat belum berhasilnya percobaan menggunakan Lerby atau Ferdinand sebagai duet Boaz di lini depan, sepertinya ini saat yang tepat untuk menggunakan rencana alternatif di atas.

Read more at http://www.fourfourtwo.com/id/features/bisa-apa-indonesia-tanpa-irfan-bachdim

Thursday, August 25, 2016

Sekilas Mengenal GBK (Gelora Bung Karno)

Stadion Utama Gelora Bung Karno
Sudah lebih dari setengah abad berdiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi saksi bisu berbagai momen bersejarah bangsa. Mulai dari urusan sepak bola hingga politik.
Bung Karno dan stadionnya
Negara Indonesia baru berdiri kurang lebih selama 14 tahun ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 113/1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Dengan menggandeng Raden Maladi (yang sebelumnya adalah Ketua Umum PSSI) sebagai Menteri Penerangan dan Frederik Silaban sebagai arsitek, Bung Karno memancangkan tiang pertama pembangunan stadion besar yang dimaksudkan sebagai stadion utama bangsa Indonesia, pada 8 Februari 1960. Seremoni tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev, karena memang pemerintah memperoleh kredit lunak sebesar $12,5 juta dari mereka untuk pembangunan stadion ini.
Bung Karno memutuskan untuk membangun sebuah stadion bukan hanya demi kelancaran Asian Games 1962, tetapi juga untuk menjadikannya, mengutip Julius Pour dalam bukunya yang berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, sebagai “masterpiece” negeri ini.
Desain stadion juga tidak asal njeplak. “Gagasan Soekarno merancang mainstadium yang terindah, terbesar, dan terunik di dunia mendorong kreativitas tim arsitek dari Rusia di bawah pimpinan Soekarno menciptakan rancangan atap temu gelang,” demikian penjelasan dalam buku tersebut. Pada 24 Agustus 1962, Soekarno meresmikan stadion berkapasitas 110.000 penonton tersebut, berbarengan dengan siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI).
Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV secara tak langsung juga menjadi pengumuman kepada dunia bahwa kita sudah menjadi sebuah negara berdaulat yang mampu berdiri bangga, dan bukan lagi jajahan meneer-meneer Belanda.
Selepas Asian Games, tepatnya pada 1964, stadion tersebut kembali digunakan sebagai pusat pesta olahraga dunia, yakni Games of New Emerging Forces (GANEFO). Kali ini, aroma politis semakin amis. Maklum, Indonesia memang belum lama mundur dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bung Karno menjadi salah satu pencetus New Emerging Forces (NEFOS), cikal bakal terciptanya Gerakan Non-Blok.
Seperti dikutip dari buku peringatan 80 tahun PSSI, Sepak Bola Indonesia: Alat Perjuangan Bangsa dari Soeratin hingga Nurdin Halid (1930-2010), “Seiring dengan itu, Bung Karno mendirikan NEFOS. Tidak berhenti di situ. Bung Karno pun memutuskan Indonesia keluar dari IOC (International Olimpic Committee) dan menggelar GANEFO tahun 1964 di Jakarta, sebagai tandingan terhadap pertandingan-pertandingan Olympiade di bawah naungan IOC yang identik dengan pesta olahraga negara-negara maju.”  Indonesia, Bung Karno, beserta stadion nasionalnya, telah tercatat, dan tidak dapat dihapuskan, di dalam sejarah dunia.
Habis Soekarno, terbitlah Soeharto. Lagi-lagi politik mengubah wajah stadion ini. Ke-anti-an pemerintah Orde Baru terhadap Orde Lama membuat Stadion Gelora Bung Karno diubah menjadi Stadio Utama Senayan, dari nama yayasan pengelolanya juga ikut berubah dari Yayasan Gelora Bung Karno menjadi Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (Keppres No.4/1984).
Barulah di era kepemimpinan Abdurrahman Wahid, berdasarkan Keppres No.7/ 2001, nama stadion kembali diubah menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno. Saat ini, kawasan Gelora Bung Karno dikelola oleh Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno.
Bahkan di era sekarang pun, stadion yang semestinya digunakan untuk acara olahraga (terutama sepakbola) ini tak bisa jauh-jauh dari politik. Bukan rahasia lagi, partai-partai politik seringkali menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat acara puncak ulang tahun atau kampanye mereka. Begitu pun dengan para calon presiden, atau organisasi masyarakat (ormas) yang juga tak bisa jauh-jauh dari urusan politik – pada akhirnya, stadion utama bangsa ini memang tak bisa jauh-jauh dari politik, baik secara sejarah maupun secara fungsionalnya.

Polemik konser dan keserbagunaan stadion
Saya masih ingat betul bagaimana Metallica beraksi di atas panggung di tengah SUGBK sekitar tiga tahun silam. Magis. Hampir tidak ada yang protes meski lapangan sepak bola berubah menjadi moshpit. Dalam cermat saya, mungkin hampir semuanya sudah dibawa ke “never never land” oleh James Hetfield dkk.
Berbanding terbalik dengan ketika boyband papan atas dunia, One Direction, berkesempatan menyapa penggemarnya di negeri ini secara langsung pada 2015 kemarin. Para penggila sepak bola seperti benar-benar dibuat “gila” karena stadion, yang katanya sakral itu, malah dipenuhi oleh teriakan-teriakan histeris wanita yang terbius kegantengan (ini bisa diperdebatkan, sih) Louis Tomlinson beserta rekan-rekannya.
Dari dua kasus tersebut, selain persoalan ketidakadilan sikap fans sepakbola yang ‘berat sebelah’, sebenarnya sudah patut disadari bahwa fungsi stadion di era dewasa memang telah berkembang. Anda tidak bisa marah. Toh dari awal, Gelora Bung Karno memang tak cuma dipakai untuk ajang olahraga saja – tahukah kamu kalau PKI, yang sampai sekarang entah bagaimana terus menjadi momok menakutkan bagi bangsa ini, bahkan pernah menggelar kampanye akbar di sana? 
Sebagaimana rumusan Multatuli, “tugas manusia adalah menjadi manusia”. Jika, Stadion Utama Gelora Bung Karno kembali digunakan oleh manusia sebagai kepentingan non-olahraga di masa mendatang, saya rasa memang begitulah nasibnya; sejak awal mulanya pula. Fenomena yang tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
Jadi, terima saja.
Source : www.fourfourtwo.com/id/features/gelora-bung-karno-berdiri-karena-aksi-politik-bukan-karena-sepakbola-semata

Sunday, December 14, 2014

Agenda Tim Senior Indonesia

logo piala dunia 2018 di rusia
Setelah gagal total alias gatot di Piala AFF 2014 yang berlangsung di Vietnam beberapa waktu yang lalu, tim nasional Indonesia senior (bukan timnas u-19 ya yang dibahas disini) praktis tidak memiliki agenda penting lainnya lagi.  Tapi, waktu bersantai untuk para pemain tidaklah banyak. Karena Tim Merah-Putih harus kembali bertanding dalam pertarungan tingkat Asia di Kualifikasi Piala Dunia 2018 yang mulai dilangsungkan pada tahun 2015 mendatang.
Indonesia bersama dengan 45 negara lainnya yang menjadi anggota AFC berhak tampil di pertandingan kualifikasi tersebut. Mereka akan menjalani beberapa tahapan atau biasa disebut dengan babak. Babak pertama penyisihan biasa juga disebut dengan pra-kualifikasi, biasanya akan diikuti oleh negara-negara yang kekuatan sepak bolanya tergolong lemah serta kurang berprestasi serta memiliki peringkat FIFA yang rendah.
Negara-negara yang masuk kategori seperti yang disebutkan sebelumnya diantaranya adalah Guam, Makau, Butan, dan Banglades. Mereka inilah yang nantinya akan mengikuti babak pertama kualifikasi yang mana pertandingannya menggunakan sistem gugur. Jika menjadi pemenang di Babak Pertama, barulah para pemenang ini bergabung dengan peserta lainnya di babak kedua. Pada babak kedua ini berlangsung dengan sistem grup yang terbagi dalam delapan grup.
Indonesia sendiri diperkirakan bisa langsung lolos ke babak kedua tersebut. Jika hal tersebut (atau harapan tersebut) terjadi, maka undian pembagian grup akan dilakukan oleh penanggung jawab hajatan, AFC, pada bulan April 2015. Timnas Indonesia, yang gagal pada kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brazil yang lalu, diperkirakan akan masuk kedalam pot keempat dalam pengundian nanti.
Pada babak kedua akan digelar pertandingan dengan sistem kandang dan tandang. Pertandingan pertama (matchday 1) akan berlangsung pada tanggal 11 Juni 2015. Sedangkan pertandingan terakhir di babak kedua jatuh pada tanggal 29 Maret 2016. Setiap juara grup dan empat runner-up terbaik dari delapan grup di babak kedua ini akan lolos ke babak ketiga. Babak ketiga akan mulai dimainkan pada tanggal 1 September 2016. Ke-12 tim yang lolos tersebut akan dibagi kedalam dua grup dimana masing-masing grup terdiri dari enam negara. Tanpa bermaksud untuk meremehkan Indonesia, apalagi dicap tidak nasionalis, tetapi sepanjang sejarah kualifikasi Piala Dunia, Tim Garuda hanya pernah sekali mencicipi persaingan di babak kedua. Kesempatan langka itu terjadi ketika kualifikasi Piala Dunia 1986 dimana timnas kala itu dilatih oleh Sinyo Aliandoe.
Kini, PSSI sekurangnya masih mempunyai waktu enam bulan lagi untuk mempersiapkan tim terbaik yang akan turun berlaga di matchday 1 kualifikasi Piala Dunia 2018. Sementara penunjukan pelatih pun tak menunggu lebih lama lagi. Pelatih yang dianggap mengenal baik karakter permainan para pesepak bola tanah air tentu jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan pelatih yang buta dengan tipe permainan Indonesia. Hal ini karena persiapan atau pelatnas bisa dipastikan akan berjalan pendek disela-sela bergulirnya Indonesia Super League (ISL) 2015. Jika hal itu tidak dipersiapkan dengan matang, maka bersiaplah untuk menyaksikan (kembali) Indonesia untuk mengulangi kembali perannya sebagai tim pengembira di Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia.

Tuesday, December 9, 2014

Sejarah Berdirinya Tim Nasional Indonesia

Timnas Indonesia u-19Sejarah mencatat PSSI resmi berdiri pada tanggal 19 April 1930. Ketika itu, awal berdirinya PSSI diilhami oleh keinginan luhur. Oleh pemuda-pemuda Indonesia, sepak bola dianggap sebagai sarana efektif untuk menyatukan semangat kebangsaan. Meski begitu, untuk membentuk timnas yang berisikan pemain-pemain Indonesia ternyata bukanlah hal yang mudah. Keinginan tersebut selalu membentur batu karang berupa arogansi pemerintah kolonial Belanda.
Dari beberapa sumber sejarah disebutkan, sejak 1931 sebenarnya PSSI telah mengguliskan kejuaraan sepak bola yang dikenal dengan istilah stedenwedstrijen di beberapa kota di Indonesia. Tetapi, PSSI tetap tak bisa membentuk timnas dengan para pemain dari turnamen tersebut. Pemerintah Belanda yang mendirikan Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) atau asosiasi sepak bola resmi di bawah pemerintahan kolonial, melarang para pemain pribumi yang berlaga di NIVB turun di kejuaraan yang diselenggarakan oleh PSSI. Situasi pelik tersebut berlangsung lama. Tapi hebatnya, dukungan masyarakat terhadap turnamen PSSI terus berkembang pesat. Kejuaraan sepak bola di beberapa kota makin ramai dan pemain-pemain hebat pribumi terus bermunculan.
Pemerintah Belanda pun kebakaran jenggot. Dengan akal bulusnya, mereka membentuk Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) yakni pengganti NIVB yang dikenal lebih terbuka. Pada tahun 1936, NIVU diakui oleh FIFA sebagai satu-satunya organisasi resmi yang ada di Hindia Belanda. Setahun kemudian, NIVU mengakui PSSI sebagai bagian dari organisasi sepak bola tertinggi di Hindia Belanda. Pengakuan itu pun dipatenkan dalam sebuah perjanjian pada 15 Januari 1937. Isi perjanjian itu antara lain akan ada saling pengertian dan kerja sama antara NIVU dan PSSI.
Momentum besar tiba ketika FIFA menunjuk NIVU untuk melakoni laga kualifikasi menghadapi Jepang guna menentukan wakil Asia ke Piala Dunia 1938 di Prancis. Untuk menentukan pemain-pemain terpilih ke Piala Dunia 1938, NIVU mengusulkan kepada PSSI untuk dilakukan seleksi pemain. Cara pemilihan pemainnya diambil dari turnamen segitiga yang diikuti dua tim bentukan NIVU dan satu tim dari PSSI. Tawaran ini diterima oleh Ketua Umum PSSI Soeratin Sosrosoegondo. Selain turnamen segitiga, NIVU juga akan memberikan kesempatan kepada tim PSSI untuk bertanding melawan tim luar negeri yang didatangkan ke Indonesia, yaitu Nan Hwa.
Apa lucur, setelah menggelar pertandingan segitiga, hasil akhirnya tidak mengguntungkan bagi  tim-tim NIVU. Tim PSSI lebih dominan. Lalu, pada pertemuan dengan Nan Hwa, dua tim bentukan NIVU harus menelan kekalahan, sedangkan tim PSSI imbang 2-2. Fakta tak mengenakkan itu membuat NIVU ingkar janji. Dengan alasan terdesaknya waktu pembentukan tim, NIVU menawarkan opsi lain. Mereka siap menampung pamain-pemain PSSI asalkan diberikan kekuasaan penuh untuk memilihnya, usulan itu ditolah PSSI. Secara politik, usulan itu mengindikasikan PSSI akan bertanding dibawah bendera Kerajaan Belanda, sesuatu yang dianggap tabu oleh pengurus PSSI ketika itu.
NIVU pun berkeras dengan keputusannya. Sebagai organisasi yang diakui FIFA, mereka merasa lebih berhak menentukan para pemain untuk berangkat ke Prancis. Alhasil pemain-pemain pribumi yang diajak NIVU sebagian besar adalah kaum pribumi yang bekerja di perusahaan Belanda. Mereka berasal dari etnis Jawa, Maluku, Tionghoa, Indo-Belanda. Fakta sejarah inilah yang membuat sebagian publik sepak bola Indonesia tidak mengakui keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia 1938 meskipun Hindia Belanda atau Dutch East Indies adalah cikal bakal Indonesia. Tim kala itu bukan representasi Indonesia, melainkan kepanjangan tangan Kerajaan Belanda.

Monday, October 8, 2012

Pemain Legendaris Indonesia

Legenda sepak bola Indonesia, itulah tema yang coba saya angkat pada artikel kali ini. Tidak adil rasanya jika saya selaku pecinta dunia sepak bola yang tinggal di Indonesia tidak mengangkat tema yang satu ini karena pada artikel-artikel sebelumnya saya hanya merangkum informasi mengenai pemain sepak bola terbaik yang berasal dari luar saja.
Khusus pada tema kali ini, saya tidak membuat per-posisi (kiper terbaik, bek terbaik, gelandang terbaik, ataupun striker terbaik) tapi secara keseluruhan. Di antara para pemain yang legendaris ini mungkin kita tidak pernah menyaksikan kehebatan mereka secara langsung, meskipun demikian kita tidak bisa melupakan jasa-jasa yang telah mereka berikan untuk kejayaan sepak bola tanah air.
Maaf ada yang ketinggalan untuk di sampaikan, pada tema pemain legendaris Indonesia kali ini saya tidak sekadar membahas mengenai permainan di lapangan tapi juga memberikan informasi mengenai kehidupan mereka saat ini setelah gantung sepatu. Dari informasi tersebut, sungguh sangat di sayangkan para pemain yang telah membuat harum dunia bal-balan di negri ini harus menjalani masa pensiunya tanpa mendapat perhatian dari para pengurus organisasi (PSSI).
1. Peri Sandria
Sebagai pemain, nama Peri Sandria sangat di segani oleh bek lawan. Kini pemilik rekor pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia selama satu musim kompetisi dengan 34 gol itu telah menciptakan rekor lain saat beralih profesi menjadi seorang pelatih.

2. Saleh Ramadaud
Postur Saleh Ramadaud bisa di kategorikan tidak proposional untuk menjadi seorang pemain sepak bola terlebih lagi jika itu untuk menjadi seorang stoper tangguh. Tapi, berkat ketekukan dan kerja kersanya, dia selalu menjadi pilihan utama di lini belakang timnas Merah Putih di era kepelatihan Tony Pogacknik.

3. Malawing
Sebagai seorang pemain profesiona, Malawing hanya membela dua klub selama berkarir di dunia sepak bola. PSM Makasar dan Niac Mitra adalah dua klub yang menjadi tempat sang pemain untuk menjadi yang terbaik. Meski hanya memperkuat dua klub, berbagai trofi juara berhasil di raihnya. Ia menjadi bagian dari timnas Indonesia pada tahun 1974-1980

4. Singgih Pitono
Kisah hidup Singgih Pitono sangatlah lengkap. Dia pernah menjadi bintang Arema Malang yang dipuji-puji oleh para fans fanatik, Aremania. Kaus berlambang Garuda di dada dikenakannya selama tiga tahun membela panji Merah Putih pada tahun 1991-1993.

Pada kesempatan kali ini cukup empat pemain tersebut yang saya bahas dan akan di lanjutkan pada kesempatan berikutnya. Adapun para pemain legendaris selanjutnya yang akan coba saya bahas adalah :
1. Kurniawan Dwi Yulianto
2. Widodo C Putro
3. Kurnia Sandi
4. Aji Santoso
5. Ronny Pattinasarani

Sunday, October 7, 2012

Singgih Pitono : Gading Langka Arema

Kisah hidup Singgih Pitono sangat lengkap. Dia pernah menjadi bintang Arema yang dipuja-puja Aremania. Kaus berlambang Garuda dikenakannya selama tiga tahun membela timnas pada tahun 1991-1993. Namun, kehidupan terkini Singgih kontras dengan segala atribut gemilang yang pernah diukirnya saat menjadi pesepak bola top di Indonesia. Setelah gantung sepatu pada tahun 2004, top scorer Galatama dua musim berturut-turut (1991 dan 1992) itu menikmati hidupnya sebagai pelatih kepala pada akademi Arema di Kecamatan Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, tempat kelahirannya.
"Mungkin, perjalanan hidup saya tak mudah dijalani mantan pesepak bola top lainnya. Bagi yang pernah jadi pemain terkenal, kehidupan yang saya alami ini akan terasa berat. Saya berasal dari keluarga susah yang hidup di desa. Jadi, kehidupan saat ini saya anggap biasa, sudah ditetapkan Tuhan," tutur legenda hidup Singo Edan ini.
Suatu saat, kala merenung, Singgih mengaku ingin seperti dua sobatnya di Arema, Aji Santoso dan Joko Susilo, yang sukses sebagai pelatih setelah gantung sepatu. Namun, ambisi itu akhirnya dikuburnya. "Saya bias mengukur kemampuan saya. Bagi saya, melatih anak-anak di akademi Arema ini bagian dari ibadah. Di sini saya dapat kepuasan," ungkapnya. Menurut Singgih, ada kebanggan yang tak bisa dinilai dengan materi, yakni penghargaan tulus dari publik sepak bola, terutama dai Tulungagung dan Malang. "Saat ultah Arema di Stadion Kanjuruhan, saya terenyuh dengan sambutan Aremania yang masih ingat saya. Padahal, kejayaan itu telah berjalan dua puluh lima tahun yang lalu. Kepuasan tidak hanya dari materi, tapi juga nama baik. Ini lebih langgeng daripada harta melimpah. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati menyisakan belang." katanya.
Ada kebanggaan lain yang menghinggapi Singgih Pitono. Putra bungsunya, Zakaria Safiq, mewarisi kehebatannya sebagai penyerang haus gol. Meski berusia sembilan tahun, Singgih melihat gaya bermainnya menurun pada Safiq. "Saya menaruh harapan pada Safiq. Dia cerdas dan punya gaya seperti saya. Terutama akurasi tendangan ke gawang,: ujarnya.

Data diri :
Nama : Singgih Pitono
Lahir : Tulungagung, 15 Mei 1967
Postur : 173cm / 65kg
Klub yang pernah di bela : Arema Malang, Petrokimia Putra, Putra Samarinda, Persema Malang, Perseta Tulungagung.

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, halaman 12, edisi 3-5 September 2012

Malawing : Petarung Yang Sederhana

Sebagai pemain Malawing hanya membela dua klub, PSM Makassar dan Niac Mitra. Meskipun begitu, berbagai trofi juara pernah di rengkuhnya. Ia pernah memperkuat timnas Indonesia pada 1974-1980. Bersana timnas, Malawing pernah menembus semifinal President Cup 1980 di Korsel. "Kala itu persaingan masuk timnas sangat ketat. Alhasil PSSI punya tiga timnas yang kekuatannya sama," ujar Malawing yang tergabung dalam PSSI Banteng.
Akan tetapi, sosok yang sederhana ini mengaku sukses terbesarnya adalah membawa Niac Mitra menjuarai Aga Khan Cup 1979. "Saat itu semua tim terkkuat di Asia ikut tampil. Termasul klub asal Korsel yang kami kalahkan 4-1 di semifinal," ungkap mantan bek kanan ini. Semua itu tinggal kenangan, kini Malawing menghabiskan waktunya sebagai karyawan lepas di lapangan Kerebosi, Makassar.
Sebelumnya, Malawing sempat bertahun-tahun menjadi ofisial bagian umum di PSM Makassar. Ia menjadi sosok yang paling dicari ketika seragam atau perlengkapan Juku Eja kurang lengkap di Liga Indonesia 2000. Tapi, tiga tahun yang lalu manajemen PSM tidak lagi memakainya. Kenyataan itu membuat Malawing kembali menghabiskan waktunya tak menentu di lapangan Karebosi. Hingga suatu saat dia bertemu dengan Ilham Arif Sirajuddin, Wali Kota Makassar, yang sedang joging di lapangan itu. "Beliau meminta saya mengurusi lapangan," ungkapnya.
Meski honornya kecil, Malawing menerima tugas itu. "Bukan semata soal uang, tapi saya mendapatkan kepuasan karena setiap hari menginjak rumput lapangan Kerebosi,' kata Malawing, yang kerap menjadi wasit dadakan buat tim penyewa lapangan.
Bagi Malawing, pekerjaan petugas lapangan merupakan titik akhir sabagai insan sepak bola. "Lewat sepak bola, saya sudah mendapatkan segala yang saya inginkan. Tempat tinggal, menyekolahkan anak, dan yang utama memberangkatkan orang tua naik haji," katanya. Khusus yang terakhir, Malawing mengaku menyimpan kebanggaan tersendiri. "Salah satu alasan saya menerima tawaran Niac Mitra karena nilai kontraknya oas dengan biaya perjalanan haji buat ibu saya, Hajjah Kabi (alm.)." kata pemain yang pertama kali bergabung dengan Niac Mitra pada tahun 1997 tersebut.

Data diri :
Nama : Malawing
Lahir : Bone, 16 September 1952
Istri : Suryani
Anak : Mashuri, Mansyur, Maksum, Mansir, Musda M
Karier : PSM (1972-77), Niac Mitra (1977-82), PSM (1982-86)
Prestasi : Juara Soeharto Cup (1974/timnas), Juara Kings Cup (PSM/1974), Juara Aga Khan Cup (1979/Niac Mitra)

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, Halaman 12, edisi 10-12 September 2012

Saleh Ramadaud : Tembok Mungil Merah-Putih

Postur Saleh Ramadaud terbilang kecil untuk ukuran stoper. Tapi, berkat ketekukan dan kerja kerasnya. Dia selalu masuk skuad utama timnas di era Tony Pogacknik. Dengan tinggi 161 cm, sulit membayangkan Saleh bisa memenangi duel bola atas. Terutama saat menghadapi tim-tim luar negeri tertutama dari Eropa. Di era 1960-1970-an, timnas adalah pelanggan turnamen bergengsi Asia.
Saleh mengaku tidak mudah baginya mendapatkan lompatan vertikal di atas rata-rata tanpa latihan spartan. "Usai latihan reguler bersama tim, saya latihan sendiri untuk mengeliminasi kekurangan tinggi badan," ujar Saleh. Selai itu, Saleh mengaku sering bertukar pikirang dengan rekan duetnya di lini belakang baik di PSM Makassar maupn timnas. Di timnas, dia bersama Anwar Ujang kerap berdiskusi. 
"Saya yang bertugas mematikan stiker lawan sedangkan Anwar berperan sebagai pelapis dan pemberi komando di lini belakang," kenang Saleh. Sebagai pemain, Saleh sudah mendapatkan segalanya baik di klub maupun timnas. Kini, Saleh yang berstatus pensiunan PNS Pemprov Sulawesi Selatan sejak 2002 lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pelatih sekolah sepak bola (SSB) Panasoni Makassar.
"Kepuasan terbesar mantan pemain adalah menghasilkan pemain yang bisa menjadi penerusnya di masa datang," ujar Saleh. Salah satu anak didiknya adalah Zulkifli Syukur, bek timnas. Saleh mengantongi sertifikat kepelatihan nasional pada tahun1975 dan berguru di Australia pada tahun 1979. "Tapi, status saya sebagai PNS menjadi kendala. Praktis saya hanya pelatih lepas di klub amatir atau SSB," ujar Saleh.
Sebagai mandan pemain, Saleh mengaku sedih dengan prestasi sepak bola Indonesia yang terus merosot. Padahal minat anak=anak dan dukungan orang tua saat ini jauh lebih besar di bandingkan dulu. Indikatornya SSB kian menjamur. "Sayang pembinaan dan metode kepelatihan di SSB banyak yang salah kaprah," katanya. Dia merujuk adanya SSB yang masih mengutamakan latihan fisik buat pemain yang masih di bawah umur.

Data diri :
Nama : Saleh Ramadaud
Lahir : Makassar, 4 Januari 1946
Postur : 161 cm / 57 kg
Istri : Syamsiah
Anak : sembilan orang
Status : Pensiunan PNS Pemprov Sulsel
Karier : PSM Makassar (1965-74)
Timnas : Timnas senior (1968-74)
Prestasi : Juara Perserikatan PSSI (1965), Juara Kings Cup Thailand (1968), Juara Merdeka Games Malaysia (1969)

Saturday, October 6, 2012

Peri Sandria : Impikan Lisensi A

Sebagai pemain, nama Peri Sandria sangat disegani oleh bek lawan. Kini pemilik rekor pencetak gol terbanyak di Liga Indonesia dalam satu musim kompetisi dengan 34 gol itu telah menciptakan rekor lain saat menjadi pelatih.
Di musim kompetisi 2009-2010, Peri dipercaya menangani PS Siak yang berada di Divisi II. Target lolos ke Divisi I menjadi beban Peri. Hasilnya, ia sukses membawa tim asal Riau tersebut lolos ke Divisi I dengan rekor tak terkalahkan dalam 14 laga. Hanya semusim, suami dari Harianingsih, mantan pevoli nasional, itu hijrah ke Persipon Pontianak klub Divisi I. Sayang ia gagal mengantarkan timnya tersebut lolos ke Divisi Utama. Namun, hal ini tak menyurutkan niat PS Siak untuk kembali menggunakan jasanya setelah di musim yang sama gagal naik ke Divisi Utama.
Sebagai mantan pemain, karier kepelatihan pria kelahiran Tandem, Binjai, 24 September 1969 memang tersendat. Peri memulai karier kepelatihannya sebagai asisten pelatih Persipo Purwakarta di Divisi II tahun 2004. Selanjutnya ia hanya menangani tim-tim gurem atau klub amatir. Hal itu juga disebabkan oleh lisensi kepelatihan Peri yang mentok di lisensi B nasional, yang diraihnya pada tahun 2008.
Sayang memang karena dari segi usia Peri yang saat ini telah berumur 42 tahunmengaku tidak bisa lagi mengambil lisensi pelatih A Nasional maupun AFC. Menurut Peri, batasan umur untuk lisensi A AFC maksimal adalah 40 tahun.
"Mudah-mudahan ada rekomendasi khusus dari PSSI buat mantan pemain timnas. Selain itu juga bisa mendapatkan dispensasi biaya agar tidak terlalu memberatkan," kata Peri yang merasa di tinggalkan dan dilupakan oleh PSSI.
Ia merasa beruntuk masih ada orang-orang yang peduli dengannya, seperti dari pihak Retower yang memberikan apresiasi beberapa waktu yang lalu. Peri merasa perhatian pemerintah terhadap mantan atlet di negara ini sangat kurang, jauh berbeda dengan yang di rasakan oleh para mantan atlet di Cina yang mendapatkan tunjangan seumur hidup bila berprestasi tinggi.

Data diri :
Nama : Peri Sandria
Panggilan : Peri
Lahir : Tandem, Binjai, 24 September 1969
Istri : Harianingsih
Anak : Peni Leonita Sandria
Tim favorit : Timnas Jerman, Bandung Raya, Kramayudha Tiga Berlian
Pemain favorit : Karl-Heinz Rummenigge, Herry Kiswanto
Prestasi : Medali emas SEA Games 1991, Pencetak gol terbanyak Liga Indonesia 1995-1996 (34 gol)
Karier klub : Diklat Ragunan (1986-89), Kramayudha Tiga Berlian (1989-91), Assyabaab Salim Grup (1991-93), Putra Samarinda (1993-94), Mastran Bandung Raya (1994-98), Persib (1998-99), Persikabo (1999)
Karier timnas : Timnas senior (1989-97)

Sumber : majalah Bola, Ole Nasional, halaman 12, edisi 17-19 September 2012

Wednesday, April 25, 2012

CS Vise : Klub Belgia Aroma Indonesia

CS Vise saat ini berlaga di kompetisi level kedua di Liga Belgia, klub yang saat ini di kuasai oleh perusahaan Bakrie. Berkuasanya Bakrie Grup di klub CS Vise di mulai pada bulan April 2011 dan bertahan hingga saat ini.         Memiliki seorang penguasa di sebuah klub di Eropa ternyata memberikan dampak positif bagi perkembangan karir para pemain berbakat di Indonesia. Berkat usaha Bakrie Grup untuk memiliki saham mayoritas di CS Vise ini lah para pemain muda berbakat Indonesia mulai di lirik oleh tim-tim Eropa lainnya.

Sejak satu tahun yang lalu, setidaknya sudah empat pemain Indonesia yang bergabung dengan klub yang bernama lengkap Royal Cercle Sportif Visetois. Sejak menguasai klub ini, Bakrie Grup memang menargetkan untuk menjadikan klub Belgia ini beraroma Indonesia dengan cara merekrut para putra terbaik bangsa di bidang sepak bola. Kebanyakan para pemain asal Indonesia yang di rekrut adalah mereka yang telah bergabung di salah satu program pembinaan yang konon katanya juga di danai oleh Bakrie Grup, yakni tim SAD Indonesia yang tampil di kompetisi Uruguay.

Dari 29 pemain yang di daftarkan oleh CS Vise untuk mengikuti kompetisi Liga Belgia, lima orang di antaranya berasal dari negeri kepulauan ini, Indonesia. Kelima pemain ini adalah mereka-mereka yang sebelumnya telah merasakan kerasnya kompetisi di level junior bersama tim SAD Indonesia di Uruguay. Para pemian Indonesia yang tergabung ke dalam skuad CS Vise pada musim ini adalah :

1. Yericho Christianto
Lahir di Malang tanggal 14 Januari 1992. Tinggi Badan 1,67cm. Pemain yang berposisi di sektor kiri pertahanan ini di juluki sebagai Roberto Carlosnya Indonesia ketika masih bermain bersama tim SAD. Bermain di CS Vise pada pertengahan tahun 2011 yang lalu, Yericho menggunakan nomor punggung 2.

2. Alfin Tuasalamony
Lahir di Maluku pada tanggal 13 November 1992. Tinggi badan 1,73cm dan berposisi sebagai pemain bertahan dengan nomor kostum 18.

Pemain kelahiran Wijhe, Belanda pada tahun 1990 ini adalah salah satu pemain hasil naturalisasi pada era kepemimpinan Nurdin Halid. Sempat membela Pelita Jaya di kompetisi ISL, Ruben akhirnya hijrah ke CS Vise bersamaan dengan kepindahan Syamsir Alam. Di CS Vise, Ruben bermain di posisi gelandang.

4. Yandi Sofyan Munawar
Penyerang CS Vise kelahiran Garut 25 Mei 1992 ini telah bermain di CS Vise sebanyak 14 kali dengan 11 di antaranya masuk sebagai pemain pengganti selama musim kompetisi 2011/2012 tanpa mencetak satu gol pun.

5. Syamsir Alam
Putra Minang kelahiran Agam 6 Juli 1992 ini memiliki postur 178 cm dan bermain sebagai penyerang. Selama membela CS Vise sejak awal tahun 2012 ini, Alam telam bermain sebanyak empat kali. Dari empat pertandingan tersebut, Alam belum sekalipun berhasil menciptakan gol.

Meski pada awalnya kelima pemain ini di ragukan oleh banyak pihak bisa menembus tim inti, walaupun masuk bukan karena skil, ternyata mereka bisa menembus skuad utama CS Vise dengan skil dan bakat yang mereka miliki. Hal ini di lontarkan sendiri oleh sang pelatih yang menyatakan bahwa kelima pemain Indonesia ini memiliki bakat yang besar untuk menjadi pemain hebat. Sebagai bukti dari pernyataan tersebut adalah ketertarikan salah satu klub dari Itaia untuk merekrut Yericho meski sang pemain belum mengkonfirmasi isu tersebut.

Langkah Bakrie Grup membeli mayoritas saham di klub Eropa dan memberikan kesempatan kepada para pemain berbakat di tanah air untuk bergabung dengan klub tersebut patut di pertahankan. Niat tulus untuk menjadikan CS Vise beraroma Indonesia tentu pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tim nasional yang tangguh dan bisa bersaing untuk merebut gelar.

Saturday, April 14, 2012

Daftar Calon Pemain TimNas Di Luar Negeri

Melihat kegemaran pengurus PSSI belakangan ini yang menaturalisasi beberapa pemain impor yang tidak memiliki setitik pun darah garuda di tubuh mereka, saya sedikit mengerutkan dada mendengarnya. JIka memang PSSI menginginkan para pemain timnas adalah mereka yang memiliki kualitas Eropa maupun Amerika Latin, PSSI seharusnya menarik pemain yang jelas-jelas memiliki darah garuda di tubuhnya.
Meski beberapa di antara mereka telah menjadi bagian dari anggota timnas tempat mereka bernaung, seperti Radja Nainggolan yang memilih Belgia, sebenarnya masih banyak lagi pemain Indonesia lainnya yang menimba ilmu mengolah bola di negeri sebrang. Siapa saja mereka ? Berikut adalah Calon pemain TimNas Indonesia di luar negeri yang berkesempatan mengenakan kostum garuda di dada.
  • Stefano Lilipaly ( FC Utrecht) 
  • Alessandro Trabuco (Rimini)
  • Syaffarizal Mursalin (Al Khor junior)
  • Michael Timisela (Belanda-VVV)
  • Arthur Irawan (Espanyol) 
  • Syamsir Alam (CS Vise )
  • Jericho Christianto (CS Vise)
  • Alfin Tuasalamony (CS Vise)
  • Yandi Sofyan (CS Vise)
  • Donovan Partosubroto (Ajax Junior)
Apakah ke-10 pemain di atas memiliki peluang untuk bermain bersama timnas Indonesia ? Jika acuannya adalah peraturan FIFA yang menyatakan seorang pemain sepak bola boleh membela negara manapun selama ia belum pernah bermain untuk timnas senior suatu negara, secara otomatis Lilipaly, dkk berpeluang untuk membela garuda di pentas internasional.
Hal ini tentunya menjadi peluang besar bagi Alam, Tuasalamony, Jericho dan Yandi yang merupakan produk dari SAD Indonesia yang bermain di Uruguay untuk menerapkan ilmunya bagi perkembangan prestasi timnas. Kabar terakhir mengatakan bahwa Lilipaly telah mendapat passport Indonesia ketika akan berlangsungnya SEA Games kemarin, namun karena beberap faktor sang pemain akhirnya urung ikut tampil di kejuaraan tingkat ASEAN tersebut.